Monday, 2 June 2014

Jatuh Cinta Diam-Diam

Dalam buku Manusia Setengah Salmon, Raditya Dika bilang bahwa, 'Hidup itu harus seperti ikan salmon, berani bermigrasi.' Pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya.

Kalo kata gue, hidup itu harus seperti beli baju di pasar baru. Ketika kita belinya banyak, pasti bakal dapet diskon. Iya, emang nggak nyambung.

Yang bener itu: 'Hidup harus seperti air, yang selalu mengalir.' meskipun ada banyak rintangan yang menghalang. Kalian tau batu besar yang ada di sungai? Coba perhatikan airnya. Mereka akan saling bahu membahu untuk menjadi lebih tinggi, dan bisa melewati batu itu. Nah, seperti itulah seharusnya manusia dalam kehidupan.

Ngomongin soal pindah, sekitar dua bulan lagi gue bakal pindah rumah. Dan bukan, gue pindah rumah bukan karena udah nikah terus jadi harus punya rumah sendiri. Tapi gue pindah karena rumah yang sekarang mau dijual sama ibu gue. Katanya sih, ibu gue mau pindah rumah, jadi rumah yang ini dijual.

Ibu gue berencana buat beli tanah. Iya, ibu nggak mau beli rumah yang udah jadi. Ibu gue maunya beli tanah, terus ngebangun rumah sendiri. Gue juga nggak tau kenapa, mungkin karena ibu gue pikir, "Ngebangun rumah di dunia nyata itu semudah ngebangun rumah di permainan The Sims." Entahlah..

Rencananya sih, rumah baru gue bakal dibangun di tanah kosong milik nenek. Jadi rumah gue bakal tetanggan sama rumah nenek. Itu artinya, setiap lebaran nggak akan ada acara silaturahmi pake mobil lagi. Karena tinggal jalan 5 langkah doang udah nyampe di depan pintu rumah nenek.

Ini ada foto rumah gue yang sekarang:


Nggak. Gue nggak pernah jemur kolor di pager itu.

Dan karena pindah rumah inilah gue jadi terinspirasi buat nulis postingan tentang jatuh cinta diam-diam.

"Emang ada hubungannya antara pindah rumah sama jatuh cinta diam-diam?"

Nggak ada.

Gue cuma mau basa-basi aja buat menuhin kalimat di postingan gue ini. Hahahahaha.

Ya udah, daripada garing, mending kita langsung aja ke cerita.

***

Bayangkan situasinya ada dua orang remaja yang sedang ngobrol di atas pohon kelapa.

"Kamu kenal si Ani, gak?" Tanya Dadang pada Joko.

"Si Ani yang anak kelas sebelah itu?"

"Anak kelas sebelah?" Tanya Dadang, heran.

"Iya, si Ani yang anak kelas sebelah itu.."

"Kok kelas sebelah? Emang sebelahnya lagi kemana?"

Hening.

"MAKSUD GUE KELAS YANG ADA DI SEBELAH KELAS KITA, KAMPRET!" Joko mulai emosi.

"Oh hehe, iya bener." Jawab Dadang, dengan malu. Karena malu, Dadang pun jadi salah tingkah. Dadang langsung bakar kolor di atas pohon kelapa.

"Emang kenapa sama si Ani?" Tanya Joko.

"Ya gitu. Gue suka banget sama dia. Abisnya cantik sih, bapaknya juga gak kalah cantik."

"Ya lo deketin aja? Lo ungkapin perasaan lo ke si Ani?" Kata Joko, memberi saran.

"Gak ah. Gue malu."

"Kenapa harus malu? Kalo cinta itu diungkapkan. Bukan dipendam. Bukan ditahan. Dan bukan bakar menyan." Kata Joko dengan bijaknya, seolah-olah dia adalah cucunya Mario Teguh.

"Cara ungkapinnya gimana?" Tanya Dadang.

"Nih gue kasih tau, cewek itu suka kejutan. Jadi lo harus kasih kejutan buat si Ani. Bisa dicoba dengan cara ngajak dia jalan ke mall. Lalu ketika banyak orang di sekitar kalian, lo buka celana sambil koprol."

"TERSERAH!" Dadang pun kesal.

Selesai pembicaraan di atas pohon kelapa tadi, Dadang langsung pulang ke rumahnya. Ia berbaring di atas kasur, memikirkan wajah Ani yang sangat indah. Matanya yang sayu, giginya yang kuning, rambutnya yang gimbal. Tunggu, itu mah bukan si Ani. Itu mah gembel kena penyakit AIDS. Oke, lupakan soal wajah Ani.

Sepanjang malam, Joko terus memikirkan Ani. Ia juga jadi kepikiran sama omongan si Joko, "Kalo cinta itu ungkapkan." Joko jadi punya niat untuk mengungkapkan cintanya pada Ani. Malam itu juga, Joko sudah meniatkan dalam hatinya untuk mengungkapkan perasaan cintanya pada Ani, esok hari.

Keesokan harinya, Dadang berangkat ke sekolah naik naga. Dadang emang kebanyakan nonton film Indosiar. Begitu sampai di sekolah, ia melihat Ani yang baru saja turun dari angkot. Rambut Ani tertiup oleh hembusan angin, membuat rambutnya jadi menggibas dan menjuntai dengan indahnya.

"Hi, Ani.. kamu cantik banget." Kata Dadang, dalam hati, latihan untuk nanti berpapasan dengan Ani.

"Ani.. kamu cantik deh, kamu mau gak jadi pacar aku?" Dadang masih terus latihan dalam hatinya. Sampai-sampai dia tidak sadar bahwa bel pulang sudah berbunyi. Nggak lah, segitunya.

"Dang, boleh permisi? Aku mau lewat." Kata Ani, yang sudah ada di depan muka Dadang.

"Aaa.. eeuu... mmm..." Dadang grogi.

"Apa, Dang? Gak jelas."

"Oh itu.. kamu.. udah ngerjain pr fisika?"

"Fisika? Dang, kita kan masih kelas 3 SD. Masa ada pelajaran fisika?"

Hening.

Rupanya Dadang kalo grogi mendadak jadi Albert Einsten.

"Aku mau lewat, boleh permisi?" Tanya Ani sekali lagi.

"Oh iya.. boleh.."

Dadang pun memberi jalan pada Ani.

"Makasih.."

Ani pergi. Berjalan menuju kelasnya, meninggalkan Dadang seorang diri mematung di dekat gerbang sekolah, dengan seorang penjual anak ayam gaul.

Hari ini Dadang gagal menyatakan cintanya.

***

Di hari ke dua, Dadang tidak mau gagal lagi. Semalam sebelum berangkat ke sekolah, Dadang sudah latihan serius di rumahnya. Ia latihan bicara dengan botol kecap, "Ani.. sebenernya aku suka sama kamu, soalnya kamu manis banget. Kamu item kental. Kamu gurih. Aku jadi laper. Aku mau makan."

Di hari ke dua ini, Dadang menunggu Ani di gerbang yang kemarin. Seperti biasa, Dadang berharap bahwa Ani akan turun dari angkot yang kemarin lagi. Dan benar, tidak lama kemudian terlihat sosok Ani yang turun dari angkot.

Dag.. dig.. dug.. jantung Dadang berdebar dengan kencang. Keringat Dadang mulai keluar dari pantatnya, membasahi seluruh celana Dadang.

Ani berjalan menghampiri gerbang, ketika Ani mau mendekati gerbang, Dadang memberanikan diri untuk bicara pada Ani, "Ani.. kamu.." ucapan Dadang masih terbata-bata.

"Kenapa, Dang?"

"Enggak. Itu rambut kamu bagus."

"Makasih, Dang. Hehe."

"Iya.."

Lagi-lagi Ani pergi meninggalkan Dadang seorang diri.

Setelah Ani masuk kelas, Dadang langsung masuk ke kelasnya, di sana ia bercerita pada Joko.

"Tadi gue mau nembak si Ani." Kata Dadang pada Joko.

"Gila, lo keren banget!"

"Tapi gak jadi. Soalnya gue gerogi."

"Kenapa?"

"Gak tau. Gue gak bisa ngomongnya."

"Gampang, Dang." Jawab Joko, meremehkan, "Lo bawa aja coklat sama bunga, terus lo kasih itu ke Ani sambil bilang kalo lo suka sama dia."

"Hmmm..."

"Gimana? Kalo mau, pulang sekolah kita beli bunga sama coklatnya dulu."

"Boleh boleh.." Dadang mengiyakan.

Keesokan harinya, Dadang sudah berdiri rapi di depan gerbang, sambil membawa coklat dan bunga. Dadang sudah sangat yakin untuk mengungkapkan perasaanya. Satu jam menunggu, Ani belum datang. Dua jam menunggu, Ani masih belum datang. Tiga jam menunggu, Dadang baru sadar kalo hari itu hari minggu.

Nasib Dadang emang sial.

***

Singkat cerita, sepuluh tahun pun berlalu. Sekarang Dadang sudah kelas 3 SMA. Sedangkan Ani sudah jadi pengusaha. Iya, Dadang selalu tidak naik kelas di sekolahnya karena terlalu sering mikirin Ani.

Dadang depresi karena setelah lulus SD waktu dulu, Ani pindah ke luar negeri. Dadang tidak sempat menyatakan cintanya. Keseharian Dadang hanya dipenuhi oleh bayangan Ani.

Mau makan, Dadang inget Ani. Mau mandi, Dadang juga inget Ani. Dadang liat gambar love, inget Ani. Dadang liat bunga sama coklat, inget Ani. Sampe Dadang liat e'e pun inget Ani. Akhirnya tiap boker e'e nya nggak disiram. Dadang nggak tega menghanyutkan bayangan Ani.

Dadang mulai putus asa untuk mendapatkan Ani. Dadang mau move on. Akhirnya ia pergi ke gedung DPR untuk menenangkan pikirannya. Ketika Dadang berjalan menuju gedung DPR, ia melihat seorang wanita dengan buah dada sebesar tutup botol. Benar, wanita itu adalah Ani.

"Ani? Kau kah itu?" Kata Dadang, yang masih tidak percaya bisa melihat sosok Ani lagi.

"Kamu.. Dadang, ya?"

"Iyaa! Kamu masih inget sama aku?" Dadang terharu. Dadang pun langsung menyembah sebuah batu.

"Masih, Dang. Hehe."

"Ani, ada yang mau aku omongin." Dadang mencoba memberanikan dirinya.

"Apa, Dang?"

"Aku suka sama..." ketika ucapan Dadang belum selesai, muncul seorang pria dari seberang jalan.

"Say, udah lama nunggunya?" Tanya pria itu pada Ani.

"Belum kok, say." Jawab Ani.

"Eh iya, Dang, kenalin, itu pacar aku." Kata Ani pada Dadang.

"Pacar? Itu pacar kamu?" Dadang tidak percaya.

"Iya. Oh iya, tadi kamu mau ngomong apa? Kamu suka apa?"

"Oh engga, aku cuma mau bilang, aku suka nurutin perkataan si Joko, katanya kalo lagi banyak orang di sekitar aku, aku harus bikin kejutan."

Dadang pun buka celana.

Seketika gunung meletus. Tsunami di mana-mana. Manusia berterbangan seperti debu. Kiamat sudah terjadi.

Tamat.

***

Oke, gue nggak tau apa inti dari cerita itu. Yang jelas, cuma itu yang ada di kepala gue pas semalem nggak bisa tidur gara-gara mikirin ulangan mikrobiologi.

Dari cerita di atas, gue bisa ngambil kesimpulan bahwa cinta itu harus diungkapkan. Bukan cuma dipendam.

Jatuh cinta pada seseorang itu nggak salah. Yang salah itu mencintai seseorang, tapi nggak pernah diungkapkan, dan berujung jadi penyesalan.

Seperti kisah Dadang yang mencintai Ani dari kelas 3 SD, tapi nggak pernah kesampaian buat dapetinnya. Dadang cuma menahan rasa itu sampai membuatnya jadi tersiksa tekanan batin.

Dan orang yang mencintai diam-diam itu kayak hamster yang lari di rodanya. Banyak tenaga yang terbuang seolah udah berlari jauh, tapi nggak pernah kemana-mana.

Maksudnya, kita cuma ngebuang waktu, dan ngebuang tenaga buat mikirin gimana caranya ungkapin perasaan ini ke orang yang disuka. Rasanya kayak udah berjalan jauh, tapi sebenernya masih di situ-situ aja.

Kasus seperti kisah si Dadang ini juga pernah gue alami waktu kelas 2 SMP. Gue pernah ngecengin anak kelas sebelah (maksudnya anak orang yang sekolah dan belajar di kelas yang ada di sebelah kelas gue). Namanya Hany Mardiany.

Waktu itu, gue sempet suka sama dia. Tapi gue nggak pernah punya kesempatan buat ungkapinnya. Padahal, kalo dulu gue deketin dia, dan bisa pacaran sama dia, mungkin sekarang wajah ini bakal jadi pacar gue karna gak akan gue putusin:


Oh God. Cantik banget dia!

Cuma ya gitu, gue nggak kesampaian buat dapetin dia. Jadinya nyesel deh waktu kemarin sempet chatting sama dia.

Iya, kemarin gue chatting sama dia di BBM. Dan kemarin juga gue baru bisa bilang kalo gue pernah suka sama dia. Tadinya sih, gue mau nanya tentang status hubungannya. Kalo single, mau gue pacarin. Kalo udah punya pacar, mau gue hasut buat mutusin pacarnya, terus gue pacarin.

Tadi nggak jadi. Gue ngerasa, 'ya udah lah, mungkin dia juga gak terlalu kenal sama gue' toh waktu SMP gue nggak deket-deket amat sama dia.

Dari kesalahan gue di masa lalu, sekarang gue cuma bisa ambil positifnya aja. Dan positifnya adalah:

Nggg... apaya?

Anjrit. Gak ada positifnya.. -__-

Iya, ini sih negatif. Dan gue masih nyesel karena nggak bilang dari dulu sama dia.

Ah kampret.

***

Tambahan:

Kata ibu, kamar gue bakal ada di lantai 3!

"KAMAR GUE DI LANTAI 3!"

Sengaja diulang biar keren.

Kebayang, kan? Enak banget kamar gue ada di lantai paling atas! Gue sempet ngetweet saking senengnya:


Tweet gue pun jadi Tranding Topic dunia.

Dan followers gue mulai banyak yang nanya ke akun gue karena gue paksa untuk ngemention.

Salah satunya ini:


Followers gue langsung panik gitu.

Namun karena followers gue rata-rata remaja rentan galau, maka mention mereka pun semakin absurd.

Kayak gini:


Ya kali gue lompat beneran.

Ah, udahlah. Hari ini gue ada ulangan mikrobiologi. Dan daripada gue dikutuk jadi bakteri sama guru gue, mending gue belajar dulu.

Dadaaaaahhh!

0 comments

Post a Comment