Thursday, 9 April 2015

Sosial Mediamu Adalah Isi Kepalamu

Semenjak ada sosial media, peradaban manusia mulai berubah drastis hingga 18365 derajat. Luar biasa sekali.

Selain mampu mengubah peradaban kita, sosial media juga mampu mengubah fungsi berbagai macam kebutuhan manusia. Contohnya makanan. Zaman dulu, fungsi makanan cuma buat menambah energi bagi tubuh. Zaman sekarang, fungsi makanan menjadi bahan pamer di sosial media. Atau contoh lainnya adalah pacar. Zaman dulu, fungsi pacar cuma buat membahagiakan hati. Zaman sekarang, fungsi pacar menjadi penambah nilai kedudukan sosial seseorang. Semakin lama seseorang menjomblo, maka semakin rendah dan hina ia di mata masyarakat. FYI aja, gue sudah punya pacar. Otomatis nilai kedudukan sosial gue pun sedikit lebih tinggi dan mulia. Alhamdulilah..

Menurut data yang gue kumpulkan dari beberapa referensi yang tidak terpercaya, setiap manusia memiliki tujuan yang berbeda untuk membuat sebuah akun sosial media. Ada yang tujuannya buat promosi barang jualan, ada yang buat ngikut-ngikutin perkembangan zaman, ada yang buat menambah pertemanan, dan ada juga yang cuma buat punya-punyaan doang. Iya, tipe manusia-manusia yang terakhir ini memang tergolong pada manusia yang merugi.

***

Gue sendiri jadi inget momen di mana gue pertama kali terjun ke sosial media. Itu waktu kelas 1 SMP, zaman di mana munculnya sebuah situs jejaring pertamanan raksasa pertama yang sangat mendunia. Facebook. And I still remember how I can have an account Facebook on that momment. Yap, bokap gue yang bikinin akunnya. Serius. Waktu kelas 1 SMP dulu, gue masih tergolong gaptek. Yang gue tahu cuma cara main game di www.games.co.id hahaha. Di sini ada yang masa kecilnya pernah main game di situs itu? Sumpah, kalian anak-anak yang bahagia.

Gue juga masih inget waktu pertama kali dibikinin akun Facebook dengan nama Raka Prasetya Andreas, poto profil gue adalah Uzumaki Naruto. Dan gue merasa hal itu wajar-wajar saja.

Semenjak punya akun Facebook, gue mulai jadi remaja yang salah pergaulan. Karena setiap kali ada akun di kolom "Saran Teman" yang mutual friends-nya banyak (meski nggak kenal), pasti gue add. Alasannya sederhana. Karena waktu itu, prinsip Facebook adalah: "Semakin banyak teman kita, maka semakin gaul kita di mata orang lain." Sebuah prinsip yang seolah-olah mengatakan bahwa orang yang nggak punya akun Facebook, harus dikucilkan dan dijadikan makanan tapir.

Namun dengan seiringnya waktu berjalan, lambat laun Facebook mulai ditinggalkan karena orang-orang mulai sadar bahwa pengguna Facebook semakin bervariasi. Mulai dari akun-akun palsu sampe para alien pun ikutan main Facebook. Itu lho, akun-akun yang kalo bikin status ketikannya pake kolaborasi antara huruf kapital, angka, dan beberapa tanda baca. Entah alien dari galaxy mana mereka berasal. Selain itu, orang-orang juga mulai merasa bosan bermain Facebook. Mungkin karena waktu itu fiturnya masih gitu-gitu aja. Chatting, Wall to wall, main game, tanya-jawab di aplikasi, dan upload gambar yang isinya quote hidup lalu ditandai ke temen-temen supaya disangka anak didik Mario Teguh.

Tapi bagaimana pun juga, Facebook mengajarkan gue satu hal terpenting dalam sosial media. Bahwa "Sosial Media Kita Adalah Isi Kepala Kita", yang kalo menurut istilah agama islam menjadi: bagiku sosial mediaku, bagimu sosial mediamu.

Sebagai bukti untuk memperkuat teori gue ini, silakan simak baik-baik gambar di bawah:


Apa yang Anda pikirkan? Apapun yang Anda pikirkan, tolong jangan memikirkan mantan!

Kalimat "Apa yang Anda pikirkan" itu jelas menjadi bukti bahwa setiap status yang kita buat di akun sosial media kita, adalah apa yang ada di dalam pikiran kita. Intinya, ya itu tadi, sosial mediamu adalah isi kepalamu. Dan gue sempat bersyukur bahwa Facebook diciptakan oleh Mark Zuckerberg. Karena kalo Facebook diciptakan oleh Dedy Corbuzier, mungkin tulisannya bakal ganti jadi: "Saya tahu apa yang Anda pikirkan!" Ya nggak usah update status aja sekalian.

Kalo nggak salah waktu gue kelas 2 SMP, muncul sebuah sosial media baru bernama Twitter. Bagi beberapa orang yang mulai bosan sama Facebook, mereka mulai bermigrasi ke Twitter. Tahun itu, gue belum bikin Twitter meski temen-temen gue udah lumayan banyak yang bikin. Pertama karena gue nggak ngerti cara main Twitter, kedua karena gue belum sadar bahwa internet punya sebuah mesin raksasa bernama Google.

Gue baru mulai main Twitter waktu kelas 3 SMP. Itu pun disuruh bikin sama pacar. Ya daripada gue dimarahin karena nggak mau nurutin kemauannya, terpaksa gue bikin akun Twitter. Dan hal pertama yang gue katakan sewaktu ngeliat tampilan timeline Twitter adalah: "Astagfirulloh. Dunia macam apa ini? GIMANA CARA MAINNYA?! WOY, TOLONG AJARIN GUE CARA MAIN TWITTER DONG, KAMPRET!!"

Setelah sedikit ngerti karena diajarin sama si pacar, gue pun mulai rutin main Twitter. Sama seperti waktu pertama punya Facebook, gue pun kembali menjadi remaja yang salah pergaulan. Karena apa? Karena gue nge-follow akun-akun motivasi, galau bijak, zodiak, dan beberapa akun nggak jelas lainnya. Sampe satu waktu gue nemu akun yang berbeda. Sebuah akun yang bisa menarik perhatian gue. Karena dari segi konten, dia punya cara penyampaian yang keren. Gue menyebutnya komedi. Dari akun itu juga, gue jadi tahu bahwa "Menulis komedi itu bukan menceritakan kejadian lucu, tapi menceritakan sesuatu dengan sudut pandang yang lucu." Karena faktanya, beberapa kali dia ngetweet tentang kejadian suram. Tapi karena diberi sudut pandang komedi, hasilnya tetep bisa bikin ketawa.

Nah, sudut pandang itu lah yang menarik perhatian gue. Yang lambat laun mulai membuat gue merasa tertantang untuk ikut punya sudut pandang seperti dia. Dalam hal ini, tentunya gue bukan mencuri ide-idenya, tapi gue mengamati, meniru, dan memodifikasi sudut pandangnya. Sampai akhirnya gue sadar, bahwa Twitter mendewasakan gue. Twitter membuat gue jadi banyak tahu. Dan dari Twitter juga, gue bisa bertemu sama banyak orang dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

***

So, inti dari postingan ini adalah:

"Kalo lo mau ngukur tingkat pemikiran otak lo itu berkembang sejauh apa, coba tengok perubahan-perubahan konten di sosial media lo udah sejauh apa."

So far as so good or so far as so bad? Only you who know the answer of this questions.

***

Tambahan:

Buat yang nanya gue punya akun Ask.fm atau enggak, jawabannya: punya.

Ask.fm gue: ask.fm/rakaprasetyaa


Masih aktif kok. Kalo mau nanya silakan, kalo mau ngasih uang udah ditunggu banget itu dari kemarin.

Dan buat temen-temen yang dulu pernah nanyain akun Instagram, sekarang gue udah punya Instagram. Username gue: rakaprasetyaaa. Huruf A terakhirnya ada tigaaa!


Nggak. Gue udah nggak pernah upload poto-poto bugil lagi kok.

0 comments

Post a Comment