Wednesday, 4 March 2015

Sejarah Kemerdekaan Indonesia Versi Sosial Media

Kurang lebih dua minggu yang lalu gue dapet chat whatsapp dari nomor nggak dikenal. Awalnya gue kira dia itu adik kelas di sekolah. Tapi ternyata:


Dia adalah salah satu pembaca blog ini.

Padahal, udah agak lama gue belum ngeblog lagi. Tapi ternyata masih ada orang yang nyasar dan mau baca tulisan-tulisan di sini. Untungnya juga, dia suka. Itu berarti, sebuah tulisan nggak punya batasan kedaluwarsa. Tulisan itu bisa bertahan untuk waktu yang lama. Nggak kayak hubungan kita. Baru beberapa bulan aja udah... oke, stop. Kenapa jadi curhat? Shit.

Waktu dapet chat dari salah satu temen pembaca, di situ kadang gue merasa senang sekaligus sedih. Senang karena masih ada orang yang mengapresiasikan tulisan gue, dan sedih karena gue udah jarang ngeblog.

Sebenernya dari kemarin-kemarin gue udah mau ngeblog. Tapi apa daya, akhir-akhir ini gue lagi banyak kesibukan. Bikin karya tulis semacam skripsi buat tugas akhir lah, ngurusin event dari beberapa media lah, kerja bakti membersihkan lingkungan dari para pelaku harkos yang meresahkan warga lah (nggak gini juga sih). And well, mumpung sekarang lagi nggak sibuk-sibuk amat, gue mau ngomongin soal perkembangan zaman, khususnya di bidang teknologi.

***

Pernah nggak sih lo ngelamun sejenak dan terlintas di pikiran bahwa sekarang kita hidup di era teknologi? Kita hidup di zaman serba canggih. For example, teknologi alat berburu. Sekarang, para nelayan udah punya kapal dan jaring besar yang sekali lempar bisa meraup puluhan ikan. Tentu saja, jaring yang ada di kapalnya menggunakan teknologi pesawat sederhana berupa katrol, yang membantu memudahkan para nelayan. Tinggal pijit tombol, jaring langsung masuk ke laut. Pijit tombol lagi, jaring naik ke permukaan. See? Menangkap ikan jadi lebih jauh menyenangkan.

Atau contoh lainnya, sekarang para pemburu babi hutan udah punya senjata api yang sekali tembak bisa bikin babi langsung mati. Nggak kayak dulu, para pemburu masih harus lari-lari mengejar babi, lalu melempar tombak dengan harapan babi itu tertusuk mati. Iya kalo kena, kalo enggak? Ya harus lari-lari lagi. Dengan bantuan teknologi senjata api, kegiatan berburu bari pun jadi lebih menghemat waktu dan tenaga.

Tapi gue pernah baca sejarah di buku IPS kelas 2 SMP, waktu zaman dulu, para manusia purba berburu hanya dengan bongkahan batu. Pertanyaan gue: "Gimana caranya membunuh babi hanya dengan sebuah batu?"

Itu kalo kepala babinya ditimpuk pake batu juga nggak bakal mati. Paling migren doang.

Nah, ngomongin soal babi, eh teknologi, gue kagum sama perkembangan teknologi di bagian sosial media. Yeah, internet. You know what I mean. Gue nggak habis pikir aja, gimana awalnya seseorang bisa kepikiran membuat dunia menjadi ada di genggaman kita.

Sadar nggak sih, kalo nggak ada internet, kita nggak bakal bisa terhubung sama orang-orang yang ada di belahan dunia. Kita nggak bakal tahu kabar terbaru tentang berita yang ada di negara tetangga. Kita nggak bakal tahu informasi-informasi apa aja yang ada di luar sana. That why, buat temen-temen yang mengimani ajaran LDR, berterima kasihlah kepada pencipta internet. Tanpa internet, ajaran kalian tidak akan sepopuler sekarang.

Sedikit menyinggung LDR, gue mau ngasih liat poto gue yang udah diedit ala anak gaul masa kini:


Ya, itu lah makna LDR. Terlihat berdua padahal sendiri. Karena LDR adalah jomblo yang diperhalus.

Balik lagi ke pembahasan. Menurut gue, internet itu sangat berperan penting bagi kehidupan kita. Internet banyak membantu pekerjaan kita menjadi lebih mudah. Apalagi semenjak internet bisa diakses lewat hp, dunia sudah ada di genggaman kita. Menarik?

Tapi ada sesuatu yang lebih menarik perhatian gue daripada sekadar internet. Kalo kalian cuma tertarik sama internet, gue lebih tertarik sama sosial media. Ya, siapa yang nggak kenal sosial media? Hampir semua orang punya (minimal satu) akun sosial media. Sekampungan apapun seseorang, minimal dia punya akun facebook lah.

Menurut gue, sosial media itu unik. Makanya, pengetahuan tentang sosial media jadi lebih cepat menyebar daripada ilmu matematika yang diajarkan di sekolahan. Bahkan Tsaqif, adik gue yang sekarang kelas 5 SD, udah punya akun facebook dari dia kelas 3 SD. Iya meskipun cuma dipake buat main game, tapi dia tetep ikut terjun ke sosial media. Men, anak kelas 3 SD udah ngerti cara main sosial media! Bayangin, lho, sesuatu yang nggak diajarin di sekolahan aja bisa dipahami dengan mudah oleh anak kecil.

Intinya: orang-orang yang nggak pernah sekolah pun bisa ngerti cara main sosial media.

Inti dari intinya: orang-orang di zaman penjajahan pun bisa ngerti cara main sosial media.

Kalo memang gitu teorinya, sekarang gue mau ngekhayal gimana jadinya kalo sosial media udah ada sejak zaman penjajahan.

Mari luangkan beberapa menit waktu berharga Anda untuk berkhayal bersama saya!

***

Gue sempet ngebayangin apa jadinya kalo waktu Indonesia diserang penjajah, para tokoh pahlawan udah terjun ke sosial media. Mungkin kronologinya bakal kayak gini:

Ir. Soekarno dan rekan-rekan seperjuangan bakal punya akun twitter untuk saling memberi kabar. Ir. Soekarno ngetweet:

"Bosan kalaoe seperti ini teroes, kawan!"

Lalu di RT Quote oleh Pak Soeharto, jadinya kayak gini:

"Setoejoe! Kita haroes lakoekan pergerakan! RT @Soekarno: Bosan kalaoe seperti ini teroes, kawan!"

Mendapati notif dari akun twitternya, Ir. Soekarno pun langsung ngebales mention Pak Soeharto.

"@Soeharto siap, kawan! Cek DM, ya!"

Rupanya Ir. Soekarno sadar kalo pembicaraan ini bersifat privasi. Beliau harus ngobrol via DM supaya tidak ketahuan oleh para penjajah yang suka nge-stalk akun beliau.

Singkat cerita ada salah satu penjajah yang baca tweet Pak Soeharto yang mencurigakan itu. Dia pun langsung lapor ke komandan devisi perang via BBM.

"Lapor, komandan. Saya membaca tweet mencurigakan dari salah satu anggota perjuangan Indonesia! Nampaknya mereka akan segera melalukan perlawanan terhadap kita!"

"PING!!!"

"PING!!!"


Kemudian dia update PM: "Ceklis, Pak Komandan! :("

Setelah pesan BBM itu deliv dan di-read, Komandan pun membalasnya.

"Mencurigakan bagaimana maksudmu? Coba capture!"

*tweet Pak Soeharto dicapture dan dikirim ke komandan*

Membaca tweet Pak Soeharto, si komandan pun ikut panik. Lalu ia segera memberi konfirmasi lebih lanjut lewat broadcast BBM kepada para prajurit.

"Dengan hormat, saya selaku komandan perang, menginformasikan bahwa pejuang kemerdakaan Indonesia mulai berontak. Mereka akan segera melakukan pergerakan anarki. Sebelum semua itu terjadi, mari kita membuat rencana penyerangan diam-diam. Jangan sampai rencana ini bocor ke telinga orang Indonesia. Tolong bantu sebar. Terima kasih.

#SBC #GakSukaDelcontAja"


Kemudian para prajurit melakukan rapat dengan komandan perang. Mereka pun update Path dulu supaya kekinian.

"Lagi rapat nih. (with Komandan and 26 others at Ruangan Bawah Tanah)"

Di lain tempat, Ir. Soekarno pun sedang kopi darat bareng Pak Soeharto. Mereka berdiskusi seputar kemerdekaan Indonesia. Selesai berbincang sambil ngopi-ngopi ganteng di warung kopi Bu Ningsih, Ir. Soekarno pun segera menulis teks naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ya, Ir. Soekarno menulis naskahnya di blog. Beliau menulis, memposting, lalu menyebar postingannya lewat akun twitter beliau.

"Baroe oepdate blog nih. Tentang teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Link: curhatan-soekarno.blogspot.com/1945/07/teks-proklamasi-kemerdekaan.html :)"

Baru lima menit diupdate, tweet Ir. Soekarno langsung jadi tranding topic dunia. Ada sekitar 765 yang me-retweet, dan 283 kali di-klik favorit.

Tentu saja, dalam waktu singkat, naskah kemerdekaan Indonesia bocor sampai ke mata para penjajah. Tidak ambil diam, komandan pun membuka peperangan untuk kesekian kalinya. Komandan perang memerintahkan prajuritnya untuk menculik Ir. Soekarno dan memenjarakannya di tempat yang jauh dari jangkauan sinyal, guna Ir. Soekarno tidak bisa ngetweet atau ngeblog lagi. Para penjajah itu memang licik.

Dan begitulah kronologi dikurungnya Ir. Soekarno di penjara Sukamiskin.

Selama Ir. Soekarno dipenjara, para penjajah mulai menyerang masyarakat secara brutal. Mereka menembak para warga yang berontak. Menyiksa para warga yang tidak memfollow akun twitter komandan penjajah, dan memenjarakan para gadis yang ketahuan pacaran backstreet dengan prajurit.

Di tengah-tengah peperangan yang begitu dahsyat, para pengrajin bambu mulai fokus main Instagram. Iya, mereka memanfaatkan sosial media untuk jualan bambu runcing.

"Yoek order bamboe roencingnya. ORI, langsoeng COD. Tersedia pilihan warna: hitam cat, hitam kotor, dan hitam dari sananya. Harga bervariasi moelai dari 20 sampai 50 riboe roepiah, no nego. Jangan ketipoe sama toko sebelah, kami menjoeal fasilitas dengan koealitas! Oentoek pemesanan, silakan hoeboengi kami di:

Twitter: @BamboeRoencingIndo
SMS/Telp: 0867-3817-2936

Oentoek testimoni, silakan koenjoengi web kami di:

www.bamboeroencingindo.com

Salam merdeka,
Bamboe Roencing Indo!"


Tiba-tiba jadi banyak yang ngontak ke toko Bambu Runcing Indo.

"COD daerah mana, gan?"

"Bahannya dari bamboe apa?"

"Bedanya yang 20 sama 50 apaan?"


Lalu dijawab..

"COD sekitaran Bandoeng poesat, gan."

"Bahannya dari Bamboe Roencing lah. Masa Bamboe Dapoer? Oke, itu boemboe."

"Coema beda level ketajaman aja. Kalo yang 50 sekali toesoek langsoeng mati. Kalo yang 20 tiga kali toesoek baroe mati."


Kemudian ditanya lagi..

"Kalo yang 50 bisa dicicil nggak, sob?"

Karena udah kesel banyak nanya tapi nggak beli-beli, si penjual pun balesnya kayak gini..

"Bisa. Tapi barangnya joega dicicil. Hari ini bamboenya, besok dikirim roencingnya."

Akun Instagram itu pun di-report as spam karena tidak ramah pada pelanggan.

Balik lagi ke kondisi Ir. Soekarno, selama beliau dipenjara, beliau tidak bisa update sosmed karena tidak ada sinyal. Beliau jadi kurang informasi di dunia maya. Tapi dengan satu keajaiban, tiba-tiba notif twitter bisa masuk ke layar hp Ir. Soekarno. Saat itu lah beliau sadar, ternyata di penjara tersebut ada Free Wifi. "Yeah! This is my treasure!" teriak Ir. Soekarno karena girang.

Itu notif mention dari Pak Soeharto..

"@Soekarno bung, sedang di manakah? Kami boetoeh bantoeanmoe! Cek DM!"

Mention itu dikirim satu minggu yang lalu.

Tentu saja Ir. Soekarno panik karena tidak tahu harus berbuat apa. Mau menolong pun tak sanggup karena kondisinya masih terjebak di dalam penjara. Beliau mencoba berpikir keras. Pernah terlintas untuk kabur, tapi tidak mungkin. Penjagaan penjara ini sangat ketat. Saking ketatnya, auratnya sampai terlihat. Oke, maaf salah fokus.

Satu bulan sudah berlalu sejak Ir. Soekarno masuk penjara. Teks naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia yang pernah beliau tulis di blog, kini hanya menjadi postingan dengan komentar-komentar yang berharap bahwa kemerdekaan bisa segera terealisasikan.

Dalam situasi tak berdaya seperti ini, Ir. Soekarno sudah sampai di titik pasrah. Semua pengorbanan yang pernah beliau lakukan hanya tinggal segaris kenangan. Tidak ingin hidupnya habis digerogoti galau, Ir. Soekarno pun memilih menghabiskan hidupnya dengan main game di hp. Karena ada Free Wifi, beliau pun buka Play Store dan melihat-lihat game yang sekiranya bisa menghibur.

Di tengah-tengah keasyikan mencari game, tiba-tiba beliau melihat sebuah aplikasi di jajaran kolom "Recomended Apps" di bagian bawah Play Store. Waktu itu beliau melihat aplikasi Soundcloud. Karena tertarik dan penasaran, beliau pun mencoba download aplikasi tersebut. Sambil menunggu proses download, beliau membaca-baca definisi dan fungsi aplikasi ini.

"Soundcloud adalah sebuah sosial media berbasis suara. Di sini kamu bisa upload lagu-lagu kamu sesuka hati. Yuk download Soundcloud dan gabung bersama lima juta pengguna lainnya!"

JENGJRENG!

Tiba-tiba saja Ir. Soekarno dapat ide cemerlang.

"Kalo saya tidak bisa merealisasikan teks proklamasi di depan umum karena terhalang jeruji besi, mungkin saya bisa merekam teks proklamasi dan meng-uploadnya ke Soundcloud! Dengan begitu, dunia akan segera tahu bahwa Indonesia telah merdeka!"

Kemudian Ir. Soekarno rekaman lewat hp, lalu mengupload hasil rekamannya ke Soundcloud. Selesai di-upload, link rekaman itu pun ia sebar lagi di akun twitternya.

"Goeys, teks proklamasi soedah saya bacakan! Kalian bisa download rekamannya di Soundcloud milik saya! More info dan link, cek bio aja, ya!"

Seperti biasa, pro dan kontra pun terjadi. Ada yang setuju bahwa Indonesia sudah merdeka, ada yang menyangkal karena tidak ada bukti bahwa itu memang Soekarno yang bicara. Indonesia belum merdeka.

Tidak kehabisan ide, Soekarno mencari aplikasi yang bisa merekam suara dibarengi video. Bertemulah beliau dengan aplikasi Youtube. Beliau download, lalu segera rekaman dengan selfie mode on.

Selesai membuat video pembacaan teks proklamasi, Ir. Soekarno langsung mengupload videonya ke Youtube, dan sampai sekarang sudah dilihat lebih dari 100 juta kali. Video itu pun sempat diliput On The Spot kategori "7 Video Paling Keren Karya Orang Indonesia". Video Ir. Soekarno ada di posisi utama, enam sisanya adalah video porno anak SMP dan SMA. Parah sekali memang negara kita ini.

Dan itu lah kronologi kemerdekaan Indonesia, kalo sosial media sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

***

Pelajaran yang bisa diambil dari postingan ini:

1. Kalo ngetweet itu jangan yang bersifat privasi. Nanti kamu masuk penjara. Kalo mau ngetweet yang umum-umum aja.

Tweet yang tidak dianjurkan:

-Pacaran
-Pacaran
-Dan pacaran

2. Update Path itu jangan di-share ke twitter. Karena sebenarnya, Path adalah sosial media privasi. Kebalikan dari Twitter. Makanya jumlah temennya dibatas. Kalo lo update Path tapi masih dishare ke twitter, apanya yang privasi? Itu sama kayak: "Lo boleh tahu tapi nggak boleh kenal". Iya lah, orang postingannya bisa diliat tapi yang bisa komen cuma yang berteman di Path.

Kecuali... kalo kontennya emang bersifat umum, atau emang buat banyak orang.

Contoh update Path yang umum:


3. Kalo mau buka online shop di Instagram, harus bersikap ramah pada pelanggan.

4. Kalo mau jadi seleb di Youtube atau youtubers, buatlah video pembacaan teks proklamasi kemerdekaan.

5. Kalo kamu merasa menyesal sudah buang-buang waktu untuk membaca khayalan tak berlogika ini, sama, gue juga merasa buang-buang waktu sudah menulisnya.

Ya udah, daripada kita buang-buang waktu lebih lama lagi, mending kita hentikan saja khayalan ini.

***

Catatan:

Buat temen-temen yang ada di Bandung atau luar Bandung yang nanti tanggal 7 Maret mau ikut ke acara Pirates Malam EP 2015 di Dago Tea House, kita ketemuan di sana ya! Kebetulan gue jadi calo tiket soalnya.

See ya later!

0 comments

Post a Comment