Gue percaya, cinta bisa kedaluwarsa bila sudah mencapai pada batasnya. Cepat atau lambat, kita akan bisa merelakan kepergian seseorang.
Dulu, gue pernah jatuh cinta sama temen sekolah. Namanya Adinda Srimulya. Kami satu sekolah tapi beda kelas. Tahun itu, Adinda adalah gadis paling cantik yang pernah gue kenal. Apapun yang dia suka, bakal gue suka. Apapun yang dia nggak suka, gue juga ikut nggak suka. Kalo ada orang yang nyakitin dia, gue jadi benci sama orang itu. Dulu, Adinda sempet punya konflik sama temen sekelas. Adinda bilang, dia nggak suka sama dia. Ajaibnya, gue jadi ikut-ikutan nggak suka sama orang yang nyakitin Adinda. Cinta?
Singkat cerita, suatu hari gue berhasil jadian sama dia. Setelah tiga tahun lamanya memendam rasa, gue bisa pacaran sama Adinda. Baru satu minggu pacaran, Adinda mutusin gue. Awalnya, jujur, gue ngedrop. Tapi sekarang? Gue udah biasa-biasa aja. Bahkan, rasa cinta gue ke Adinda udah nggak ada. Kedaluwarsa?
Satu hal: kalau sekarang gue balikan sama Adinda, rasa gue ke dia udah beda. Adinda, udah nggak semenarik waktu dulu gue ngejar-ngejar dia.
Gue juga percaya, cepat atau lambat kita akan merasakan kejenuhan dalam sebuah hubungan. Entah bagaimana caranya, yang pasti rasa jenuh itu akan ada. Sebagian besar jenuh karena selama pacaran cuma gitu-gitu aja. Sebagian lagi jenuh karena perhatian yang ia berikan, berbalas sebuah pengabaian. Tapi mau dari segi mana pun, kejenuhan itu akan berujung sama: cintanya jadi kedaluwarsa.
***
Oke, sekarang gue mau sedikit cerita tentang cinta yang kedaluwarsa.
Semuanya bermulai di bulan Oktober tahun 2011, tepatnya tanggal 20. Hari itu, gue jadian sama Dinda Ayu Larasati, temen sekelas di sekolah.
Dinda itu orangnya baik, cantik, perhatian, dan sedikit humoris. Di luar semua itu, ada satu hal yang bikin gue betah sama dia: bisa nerima kekurangan gue. Yap, menurut gue itu cukup penting. Karena cinta itu bukan seberapa bisa kita romantis di mata dunia, tapi seberapa bisa kita bahagia meski dengan cara yang sederhana. Dan bisa menerima kekurangan satu sama lain adalah salah satu cara sederhana untuk bahagia.
Dua tahun berlalu. Hubungan gue sama Dinda masih normal. Meski di beberapa bulan agak sering berantem, tapi kami masih bisa bertahan. Karena waktu itu, gue percaya dengan quote ini:
"Seberapa sering kita bertengkar? Sesering itu lah kita saling memaafkan."
Dan dari setiap pertengkaran yang terjadi, kita akan selalu belajar untuk saling memahami lebih dalam lagi.
Kalau gue bilang Dinda itu perhatian, artinya Dinda emang bener-bener perhatian. Kalau gue sakit, dia selalu menyempatkan waktunya untuk datang ke rumah sambil bawa susu dan roti, meski gue nggak minta. Kalau gue sibuk, dia selalu mencoba untuk mengerti dan memberi gue waktu, meski akhirnya gue suka lupa waktu. Kalau gue minta ditemenin ke suatu tempat atau gue minta ketemuan untuk sekadar ngobrol-ngobrol ringan, dia selalu berusaha ada dan siap untuk menemani gue, meski sebenarnya dia udah punya jadwal atau kesibukan lain yang lebih penting.
Kalau gue bilang Dinda itu baik, artinya Dinda emang bener-bener baik. Terserah mau percaya atau enggak, di dua tahun pacaran itu, gue sama Dinda udah sering banget putus nyambung. Kalau dihitung-hitung, gue sendiri lupa udah berapa kali. Tapi Dinda masih mau setiap kali gue ajak balikan, meski selalu gue yang mutusin. Iya, sejak tanggal 20 Oktober 2011 sampai sekarang, Dinda belum pernah mutusin gue. Tapi dia selalu mau membuka hatinya untuk gue. Bahkan, sering kali dia yang selalu berusaha mempertahankan hubungan kami seorang diri. Di saat gue bersikeras ingin mengakhiri, dia yang selalu memohon supaya gue nggak pergi.
Kalau gue bilang Dinda itu humoris, artinya Dinda emang bener-bener humoris. Waktu kelas 2 SMA, kami pernah beberapa kali bolos bersama dari sekolah (iya, yang pasti ini ajakan gue). Sebenarnya kami bolos juga karena keinginan berdua. Karena kami samasama jenuh dengan pelajaran sekolah. Gue masih inget banget, waktu itu kami bolos ke Balai Kota. Di sana kami main Scrable (game merangkai kata yang pake bahasa Inggris) dengan modal selembar kertas dan pulpen. Gue juga masih inget, waktu itu kami pernah bolos ke Kebun Teh Jayagiri, Lembang. Padahal, hari itu ada acara kelas ke Dago Pakar. Oh Pak Dindin, maafkan kami..
Bodohnya, gue yang nggak bisa berterima kasih pada Dinda. Di akhir bulan Oktober tahun 2014 kemarin, gue putus lagi sama Dinda. Alasannya karena gue jenuh sama dia. Entah kenapa, gue males aja sama dia. Semua perhatiannya jadi terasa hambar bagi gue. Semua kebaikannya jadi terlihat biasa di mata gue. Dan waktu itu gue tahu, gue harus mutusin dia. Gue sempat dilema. Kalau bertahan, itu sama aja gue nyiksa dia secara perlahan. Tapi kalau putus, meski samasama nyiksa, tapi sakitnya nggak nanggung. Dan gue juga berhenti membohongi diri sendiri. Gue nggak bisa pura-pura masih nyaman sama dia, padahal aslinya udah enggak. Lagian, jauh hari sebelum putus, gue udah bersikap sangat dingin ke dia. Entah kenapa, gue udah nggak nyaman aja sama Dinda. Semua yang dia lakuin jadi terlihat salah di mata gue.
Akhirnya, bulan November 2014 pun gue mulai membiasakan diri tanpa kehadiran Dinda. Gue merasa lega, gue merasa tenang, gue merasa nggak ada gangguan lagi. Dan yang jelas, hari-hari gue jadi terasa lebih santai semenjak nggak ada Dinda.
Meski sewaktu putus sama seperti biasa, Dinda nyoba menahan gue untuk nggak pergi. Tapi gue nggak bisa bertahan lebih dari ini. Gue udah jenuh. Waktu itu, gue bilang, "Ya udah, gini aja, kita putus dulu, nanti kita balikan lagi. Aku jenuh sama kamu. Aku butuh hiburan."
Kejenuhan itu terbayar oleh pacar baru gue, sebut saja namanya Lia. Waktu sama Lia, gue ngerasa kayak jatuh cinta lagi. Udah lama gue nggak ngerasain ini. Itu lah kenapa, gue jadi lebih tenang. Karena di balik jenuhnya gue sama Dinda, ada Lia yang ngisi hati gue.
Dua bulan berlalu, tiba-tiba aja gue jadi kepikiran Dinda lagi. Otak gue kembali dipenuhi oleh Dinda. Dia apa kabarnya? Sekarang dia sama siapa? Apa dia masih periang seperti yang dulu gue kenal? Mendadak, gue jadi pengin tahu kabar dia.
Kebetulan, gue sama Dinda masih kontakan di Line Messenger. Iseng-iseng gue liat Home-nya, ternyata ada banyak postingan yang mengabarkan bahwa dia udah hidup senang sekarang. Karena dari dulu gue udah biasa ngontek dia via Whatsapp, waktu itu gue chat dia.
"Halo.."
"Apa?"
"Pie kabare?"
"Menurutmu?"
"Baik-baik aja sih. Udah punya pacar baru?" nggak tahu kenapa, gue tiba-tiba nanya gitu.
"Emang kenapa?"
"Ya pengin tahu aja.."
"Udah."
Waktu itu, nggak tahu kenapa, gue ngerasa ada yang aneh. Semacam perasaan nggak rela denger dia udah punya pacar, meski ini salah gue yang udah mutusin dia. Sebenernya bukan nggak rela sih, tapi gue cuma pengin tahu aja siapa pacar barunya. Kalau kelihatannya cowok baik-baik, gue bisa tenang. Kalau cowok-cowok kampret, mungkin gue harus ambil tindakan. Iya, gue masih belum ikhlas kalau Dinda dimainin sama cowok lain.
Malam tahun baru, sekitar pukul tujuh, gue datang ke tempat kerjanya. Yap, Dinda udah kerja sekarang. Gue berdiri tepat di hadapannya, "Beneran udah punya pacar baru?"
"Iya, kenapa?"
"Oh.. enggak. Cuma nanya aja."
"Kenapa?"
"Cek whatsapp aja."
Abis itu gue langsung pulang. Pertemuan yang sangat singkat, nggak lebih dari lima menit.
Sebelum datang ke tempat kerja Dinda, gue ngirim dia chat Whatsapp. Isinya adalah semua kecemasan gue tentang pacar barunya. Gue jujur secara blakblakan bahwa gue nggak rela kalau dia sampai pacaran sama cowok yang nggak bener.
Begitu gue nyampe rumah, Dinda udah bales chat gue. Katanya, "Aku bisa jaga diri kok. Lagian aku juga udah capek sama kamu. Sekarang aku cuma mau nikmatin masa-masa aku. Masa-masa sama pacar baru yang mau lakuin banyak hal buat aku. Dia yang mau nganter-jemput aku pake motor, meski harus minjem motor ke temennya. Dia yang mau ngerangkul aku, ngebelai rambut aku pake kasih sayang, dan dia yang mau nyayangin aku setulus hatinya."
Gue jawab, "Kenapa harus sampai rangkul-rangkulan gitu? Apa kamu lupa, kalau kita punya komitmen buat balikan lagi? Masa kamu disentuh-sentuh sama cowok lain?"
Dinda balas, "Ariya (nama pacar barunya) cuma ngerangkul kalau lagi rame kok. Kalau cuma berdua, dia nggak berani."
YA TETEP AJA DISENTUH-SENTUH, ELAH..
Waktu itu gue kesel. Gue cuma bisa kesel, karena gue nggak punya hak buat larang dia. Iya, karena masih dalam periode putus, gue nggak berhak buat ngatur-ngatur hidup dia. Waktu itu, gue cuma bisa mengalihkan pikiran dengan cara merayakan malam tahun baru di luar rumah. Berhasil, untuk satu malam. Besoknya? Gue kembali ngedrop.
Tanggal 2 Januari 2015, Dinda datang ke rumah gue. Dia mulai cerita semuanya dari awal. Dia cerita tentang Ariya, pacar barunya. Gue cuma bisa nyimak dan refleks, gue nangis. Iya, gue beneran nangis. Kenapa? Karena sekarang Dinda ada di tangan cowok lain. Oke lah, gue juga masih pacaran sama Lia. Tapi, gue nggak nyentuh Lia berlebihan. Gue nggak rangkul dia, apalagi ngebelai rambutnya (lagian Lia pake kerudung sih). Dan gue bisa jaga diri. Lah Dinda? Dia ada di tangan cowok yang gue sendiri nggak tahu kayak gimana. Gue sih, percaya kalau Dinda bisa jaga diri. Yang gue khawatirin, cowoknya itu yang bakal lakuin segala macam cara buat bisa 'nyentuh' Dinda.
Besoknya, gue langsung putusin Lia. Kenapa? Karena Dinda bilang, "Aku bisa putusin Ariya kalau kamu mau putusin Lia." Jujur, gue jelas milih Dinda. Selang dua hari setelah gue mutusin Lia, gue sempat dikejutkan oleh kata-kata Dinda. Dia bilang, "Sebenernya aku nggak punya pacar. Cerita Ariya itu bohong. Aku mengada-ngada cerita, cuma mau tahu respons kamu kayak gimana."
Agak nyesek juga gue dibohongin. Tapi ya, udah lah, mungkin itu cara dia supaya gue jadi sadar betapa nggak enaknya berada di posisi yang ditinggalkan. Apalagi sampai mendengar kabar bahwa yang meninggalkan udah punya pacar. Apa yang gue rasain waktu denger cerita Dinda udah punya pacar baru, pasti sama seperti apa yang Dinda rasain waktu denger gue pacaran sama Lia. Itu adil. Bahkan, Dinda masih lebih baik daripada gue, karena pacar barunya cuma cerita bohongan. Tapi sumpah, efek ke diri gue itunya yang beneran. Kampret memang.
Entah resminya tanggal berapa gue sama Dinda kembali balikan. Gue udah nggak mau ngurusin tanggal lagi. Itu nggak penting. Yang jelas, semenjak balikan itu, gue berniat untuk serius sama Dinda. Gue nggak akan menyia-nyiakan dia lagi. Hebatnya, niat gue itu dibantu oleh Allah. Entah gimana awalnya, tiba-tiba aja gue jadi sayang banget sama Dinda. Kalau dia bales chat-nya lama, gue jadi suka gereget. Kalau dia ketiduran padahal baru chat satu jam, gue langsung telepon dia. Pokoknya, isi kepala gue jadi cuma Dinda. Bahkan, waktu dia ngasih harapan buat ketemuan, terus ngabisin waktu berdua seharian, itu gue ngarepnya tingkat dewa. Makanya pas batal ketemuan gara-gara dia ada acara lain, gue sempet nyesek campur gereget.
Berbeda dengan dulu, dia yang selalu minta waktu buat ketemu, gue yang selalu menghindar. Sekarang, gue yang selalu pengin buat ketemu, dia yang nggak bisa karena sibuk. Berbeda dengan dulu, dia yang selalu bawel di chat, gue yang selalu cuek. Sekarang, gue yang selalu pengin chat, dia yang selalu bales singkat. Awalnya gue selalu berusaha untuk tetap positive thiking, sampai pada akhirnya gue mulai sadar, ternyata Dinda jenuh sama gue.
Iya, kalau dulu gue yang jenuh sama dia, sekarang dia yang jenuh sama gue. Sekarang dia lebih dominan ngisi waktu buat temen daripada buat gue. Sekarang dia lebih dominan sibuk ngurusin yang lain daripada chatting sama gue. Dinda yang dulu ke mana? Hilang.
Tapi gimana pun juga, gue nggak bisa nyalahin dia. Ini juga tetep salah gue yang dulu bersikap cuek sama dia. Gue yang dulu pernah pergi dan ngebiarin dia hidup sendiri, perlahan Dinda mulai terbiasa ngabisin hari-hari tanpa gue lagi. Jadi, mulai sekarang, gue mau ada atau nggak ada, itu nggak terlalu ngaruh buat Dinda.
Jujur, tentu saja gue kangen sama sosok Dinda yang lama. Dinda yang dulu gue kenal, adalah Dinda yang gue tulis di awal. Bukan Dinda yang dikit-dikit ngilang, dikit-dikit lama bales chat, sekalinya dibales malah singkat. Sekali lagi, jujur, tentu saja gue kangen sama sosok Dinda yang lama.
Tapi apa daya? Gue nggak bisa apa-apa. Sekarang, gue cuma bisa nerima dia apa adanya. Kalau dia nggak bisa jadi Dinda yang dulu, mungkin gue hanya perlu adaptasi dengan semua ini. Kalau sekarang Dinda jadi sibuk dan jadwal mainnya dominan ke temen-temennya daripada gue, mungkin sekarang gue hanya perlu menjadi sibuk dan membuat jadwal main yang dominan ke tugas daripada Dinda.
Bukan maksud mau samasama menghindar, tapi gue hanya butuh sebuah media yang bisa bantu gue mengalihkan pikiran dari dia. Minimal, waktu berlalu jadi nggak terlalu lama karena nungguin dia. I know it make no sense, but what else I can do? Bukankah waktu gue nggak ada, Dinda juga ngisi waktu dengan cara yang sama? Mencari hiburan yang mampu membuatnya lupa apa yang ia tunggu-tunggu sebenarnya.
Oke, gue nggak tahu, gue sama Dinda bisa bertahan berapa lama dengan rutinitas seperti ini. Yang gue tahu, ini adil buat nebus kekosongan gue waktu dulu yang nggak ada buat dia. Sekarang gue tinggal nunggu waktu aja.
Satu hal yang gue pelajari dari pengalaman ini:
"Ketika kita meninggalkan seseorang, itu sama saja dengan membiarkan orang lain meminjamkan bahu untuk orang yang kita tinggalkan. Dan orang yang meninggalkan, kelak akan merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan."
Eh, itu satu hal atau dua hal sih? Ya, pokoknya segitu aja lah.
***
Kalau nanti gue sama Dinda udah samasama punya kesibukan masing-masing, seolah udah nggak saling membutuhkan satu sama lain, itu berarti cinta gue sama Dinda udah kedaluwarsa.
Meski jauh di dalam hati, gue berharap, ini semua hanya ketidaknyamanan gue yang terlalu rindu, dan dapat segera terobati oleh sebuah temu.
Ya, jika cinta bisa kedaluwarsa karena kita yang mulai lelah menjalaninya, doakan, semoga gue nggak lelah mencintai dia, begitu pun sebaliknya.
Selamat tanggal 20, Dinda!
0 comments
Post a Comment