-Novel ARDF-
AR berdiri terpaku, menunggu penjelasan dari DF. Suasana terminal Leuwi Panjang saat itu sangat ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Beberapa di antaranya adalah pedagang kaki lima, yang dengan semangat menjual dagangannya. Beberapa di antaranya lagi adalah orang-orang yang sedang sibuk membawa ransel dan koper.
"Maaf, tapi aku harus pindah. Ayah aku dapet tawaran kerja di Surabaya." ucap DF, setelah beberapa detik terdiam.
"Jadi, kamu ikut pindah?" AR masih tidak percaya.
"Iya, maaf ya.."
Kini DF menundukkan kepalanya.
"Kok ngedadak? Kenapa gak ngasih tahu dari sebelumnya?" tanya AR, masih meminta penjelasan.
DF mencoba menatap AR, "Aku cuma gak mau ngeliat kamu sedih."
"Tapi sekarang kamu ngeliat aku sedih." suara AR terdengar sangat lemas.
"Kamu bakalan seneng, kalo sekarang aku bilang, aku sayang kamu.."
AR hanya diam, memandang wajah DF.
"Aku suka kamu dari pertama kita ketemu," tutur DF, "Dan aku sayang kamu semenjak kamu deketin aku."
"Kenapa kamu gak bilang dari dulu?" tanya AR, yang sedikit kecewa karena DF tidak pernah berkata jujur dari dulu.
"Maaf, aku harus pergi sekarang."
Kemudian DF pergi meninggalkan AR, terpaku seorang diri. Dari kejauhan, AR melihat DF menangis di kursi bus.
Perpisahan yang dihiasi oleh air mata itu selalu menjadi ingatan yang terlintas di pikiran AR. Tiga tahun yang lalu, tepatnya bulan Juni 2006, AR bertemu dengan DF di sekolah. Mereka memang satu sekolah, tapi mereka beda kelas.
Tiga tahun yang lalu, AR adalah seorang siswa SMK yang konyol dan sedikit menyebalkan. Tiga tahun yang lalu, AR mengenal DF dari sebuah kecelakaan tabrak bahu yang tidak sengaja. Dan tiga tahun yang lalu, AR tidak pernah menyangka bahwa perpisahan ini akan terjadi.
-Bandung, tahun 2006-
Hari itu adalah hari pertama MOS (masa orientasi siswa) di sekolah baru AR. Yap, AR adalah siswa baru di sekolah tersebut. Begitu pun dengan DF, ia juga siswa baru.
Awalnya, mereka berdua tidak saling tertarik satu sama lain. Apalagi karena sifat AR yang konyol dan sedikit menyebalkan, sangat bertolak belakang dengan sifat DF yang pendiam dan tertutup. Tentu saja, di mata AR, seorang DF adalah sosok gadis yang kurang asyik untuk diajak ngobrol. Dan bagi DF, sosok AR terlalu banyak tingkah.
Di sekolah barunya itu, AR memiliki teman yang sangat heboh dalam urusan wanita. Kita sebut saja namanya Oray. Waktu itu Oray menantang taruhan pada AR dan teman-teman yang lainnya.
"Bro, gimana kalo kita taruhan? Siapa yang bisa memenangkan taruhan ini, bakal saya traktir makan di kantin selama satu semester." ucap Oray, ketika di dalam kelas.
"Taruhan apaan?" tanya salah satu teman AR.
"Gini, my friend.." jawab Oray, menjelaskan seraya menepuk pundak temannya, "Kalian tahu gak cewek yang rambutnya sering diiket satu, yang kalo jalan sering sendirian?"
Beberapa temannya berpikir keras, mencoba menebak-nebak, "Yang anak kelas sebelah, bukan? Yang kalo dateng suka agak siang?"
"Nah, itu!" ucap Oray, membenarkan, "Kita kan, sering nongkrong di kantin sebelum bel masukkan, nah, si cewek itu sering lewat di depan kita kalo kita lagi nongkrong!"
"Ohh.. iya tahu.. tahu.." teman-temannya mengangguk.
"Nah, taruhannya adalah, dapetin cewek itu!"
Hening.
"Kamu gila? Mana bisa kita dapetin cewek yang pendiem itu?" jelas temannya, "Jangankan dapetin dia, ngedeketinnya aja susah!"
"Justru itu hadiahnya lumayan keren! Ditraktir makan selama satu semester setimpal kan, sama dapetin cewek yang susah dideketin?"
"Iya sih, emang setimpal. Oke deh." jawab beberapa temannya, menyanggupi.
"Gimana, AR?" tanya Oray pada AR, "Mau ikutan gak?"
AR yang dari tadi menyimak, dengan kurang yakin menjawab, "Oke lah. Saya ikut."
Sebenarnya AR menyanggupi taruhan ini bukan karena tertarik pada DF. Tapi karena solidaritas teman. AR tidak mau membuat teman-temannya kecewa kalo sampai dia tidak ikut taruhan. AR pikir, mungkin kalo ikut taruhan, setidaknya sudah cukup untuk membuktikan kesolidaritasan teman.
Hal itu terbukti dengan sikap AR yang tidak melakukan apa-apa selama masa taruhan. Yuda, dan Ijul (teman-teman AR yang ikut taruhan) sangat antusias dan bersikeras untuk mendapatkan DF. Banyak cara yang mereka coba untuk bisa mendekati DF. Sayangnya, mereka berdua selalu gagal.
Dari kegagalan Yuda dan Ijul, mulailah muncul cowok-cowok lain yang penasaran pada DF. Dari setiap kelas, pasti ada perwakilan yang mendekati DF. Mungkin ini memang sifat cowok: "Kalo gue bisa dapetin cewek yang gak bisa didapetin cowok lain, berarti gue lebih ganteng dari mereka." mungkin.
Banyak cowok yang berusaha. Tapi AR masih tetap tidak melakukan pergerakan. Ia hanya diam, diam, dan diam, sampai suatu hari ia mendapat sebuah kabar buruk tentang DF.
"WOY!! DF KECELAKAAN!! Tadi DF jatuh ke kubangan di belakang lapang basket!" teriak salah satu siswa yang berlari ke setiap kelas.
Mendapati kabar itu, tiba-tiba hati AR tergerak. Setidak peduli apapun AR terhadap DF, tetap saja kalo kasusnya seperti ini, maka AR akan jadi peduli. Tapi bukan peduli karena DF adalah bahan taruhannya, AR peduli karena DF adalah teman sekolahnya.
Setelah kejadian itu, DF tidak sekolah selama dua minggu. Perlahan, taruhan itu pun mulai dilupakan. Tentu ada perubahan di sini. Bukan hanya DF dan taruhan itu saja yang hilang. Tapi rasa tidak peduli AR juga menghilang. Entah kenapa, AR jadi merasa khawatir pada kondisi DF.
-Kelas 2, Semester 1-
DF kembali sekolah setelah dua minggu istirahat di rumah. Di rumah? Iya, DF isitrahat di rumah, dan tidak dibawa ke rumah sakit. Kenapa? Karena orangtua DF tidak cukup biaya untuk mengobati luka DF. Faktor ekonomi terpaksa membuat DF harus beristirahat di rumah saja. Sebenarnya, saat beristirahat itu, DF sudah minta pindah sekolah. Ia tidak betah lagi dengan sekolah itu. Tapi kembali pada faktor ekonomi, orangtua DF belum mampu memindahkan DF karena pindah sekolah juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kelak saatnya tiba, AR mengetahui semua ini.
Saat DF kembali sekolah, AR mulai merasakan ada yang berbeda. AR mulai penasaran ingin mengenal DF lebih jauh, AR mulai ada keinginan untuk berbicara dengan DF. Entah setan apa yang merasukinya siang itu, yang jelas AR berencana untuk menunggu DF di belakang sekolah, setelah bubaran.
Rencana AR sangat sederhana: ketika bel bubaran berbunyi, ia akan langsung ke belakang sekolah dan menunggu DF di warung soto. AR tahu bahwa DF akan berbincang-bincang dulu dengan teman sekelasnya saat bel berbunyi. Jadi, waktu adalah satu-satunya jalan untuk bisa bicara dengan DF. Semakin cepat AR berlari ke belakang sekolah, maka semakin besar peluang AR untuk menemui DF di sana.
Dari mana AR tahu bahwa DF akan lewat situ? Kebetulan saja, AR sering melihat DF pulang-pergi lewat jalan belakang sekolah. Apakah sudah pasti bahwa DF akan lewat situ hari ini? Tidak. AR hanya bermain dengan tebak-tebakan. Jika beruntung, maka ia akan bertemu dengan DF di sana.
Mungkin hari itu keberuntungan sedang berpihak padanya. DF melewati jalan itu. Dengan wajah sok diganteng-gantengin, AR pun bersiap untuk bicara.
"Hey?" ucap AR, menyapa DF.
Tapi DF tidak menjawab apa-apa.
"Rumah kamu di mana, sih?"
DF tetap acuh pada pertanyaan AR.
"Boleh minta nomor hp kamu?"
Entah kesal atau kasihan, akhirnya DF menjawab pertanyaan AR. "Gak punya hp."
"Tapi di saku kamu ada hp." timpal AR, sambil melihat ke arah seragam DF.
"Bukan hp aku."
"Ya gak apa-apa, yang penting aku bisa tahu nomor kamu."
DF diam.
"Pelit." cetus AR, memancing DF.
"AR.. aku mohon jangan ganggu aku.." ucap DF, dengan raut wajah yang datar. Ekspresi wajahnya sangat pucat, dan terlihat seperti orang kelelahan.
Akhirnya AR membiarkan DF pergi. Tapi, AR tidak membiarkan rasa penasarannya menghilang, justru ia malah semakin penasaran. AR yakin, ada sesuatu yang salah dengan DF.
"Ada apa sebenarnya dengan gadis itu?" kalimat tersebut terus membayangi pikiran AR sepanjang perjalanan pulang.
Sejak saat itu, AR semakin penasaran, dan semakin ingin tahu.
-Kelas 2, Semester 2-
Meskipun sekarang AR berencana untuk mendekati DF, tapi ia sudah tidak memikirkan tentang taruhan. Ia menganggap bahwa ini bukan taruhan. Rasa penasarannya pada DF timbul dari lubuk hatinya.
Di semster dua ini, semua siswa diharuskan untuk PKL (prakerin) selama satu semester. Prakerin itu adalah masa di mana siswa belajar bimbingan kerja. Karena SMK adalah sekolah kejuruan, maka siswa akan prakerin sebelum kelulusan, dan akhirnya bekerja di perusahaan beneran.
AR dan DF beda jurusan di SMK itu. Tapi tidak jadi halangan bagi AR. Menurutnya, beda tempat prakerin ini tidak akan menjadi batasan untuk bisa mengenal DF. Dengan segala tindakan konyol (yang cenderung bodoh karena semberono), AR pun menanyakan tempat prakerin DF pada guru bimbingan. Setelah mendapatkan informasinya, AR berangkat ke tempat DF.
Hari pertama coba-coba datang ke tempat DF, AR mulai sok dekat dengan DF. Ia mencoba mengajak makan, istirahat bareng, atau pun pulang bareng. Tapi selalu gagal. Selalu gagal selama tiga minggu. Sampai di minggu keempat, tepatnya hari Rabu, DF pun mau diajak makan bareng, itu pun dengan alasan karena kasihan.
Dari situ, AR semakin semangat untuk menemui DF. Meskipun cuma kasihan, tapi AR merasa bahwa ini adalah awal baik bagi pendekatannya. AR percaya, bahwa kesempatan akan semakin besar. Kepercayaan AR berhasil dibuktikan, perlahan DF mulai mau diajak pulang bareng. Bahkan, DF mulai mau diajak main.
Waktu itu, AR ngajak nonton bioskop, di BIP, Bandung. DF adalah gadis yang menyukai film motivasi. Jadi, waktu itu mereka nonton film "Mereka Bilang Saya Monyet." Selama film diputar, selama itulah AR terus memperhatikan wajah DF. Ada senyum manis di wajahnya, dan senyum itu yang selalu AR ingat, sampai sekarang. Tidak terasa film sudah selesai, dan mereka pun harus pulang. Tapi, ketika mau pulang, tiba-tiba Bandung diguyur hujan. Terpaksa mereka berteduh dulu sambil menunggu reda.
"Pasti aku dimarahin kalo pulang jam segini." ucap DF, saat hujan mulai reda, dan bersiap untuk pulang.
"Aku bakal minta maaf sama orangtua kamu." jawab AR, mencoba menenangkan kekhawatiran DF.
"Orangtua aku bakal makin marah, kalo aku pulang sama cowok."
"Kalo gitu, biar kita yang dimarahin berdua." tutur AR.
Sesampainya di rumah DF, terdapat ayah DF sudah berdiri di depan pintu. Tentu saja AR tegang, campur sedikit rasa takut. Belum sempat AR mengucapkan maaf, Ayah DF sudah menyuruh AR masuk ke dalam. AR dipersilakan untuk duduk di ruang tamu. Sedangkan DF langsung masuk ke kamarnya.
"Gak baik kalo perempuan pulang jam segini, apalagi kalian masih sekolah." kata ayah DF pada AR, membuka obrolan, "Lain kali jangan diulangi ya.."
"Iya, Pak." AR mengangguk. "Tadi hujan, jadinya kami nunggu reda dulu. Daripada DF sakit, lebih baik berteduh."
"Iya, gak apa-apa."
"Kalo gitu, saya pamit, Pak."
AR pulang dengan perasaan lega. Pikirannya tentang dimarahi oleh ayah DF ternyata salah. Ayah DF sangat ramah, dan baik hati.
Esok harinya, AR datang ke tempat DF, untuk memastikan apakah DF dimarahi atau tidak. Untungnya, DF bilang, "Aku gak dimarahin, soalnya kamu berani minta maaf sendiri. Makasih ya." ada senyum di wajah DF ketika mengucapkan 'makasih', senyum yang membuat AR menjadi semakin tenang.
Sejak saat itu, mereka jadi lebih sering main. Mereka jadi lebih dekat dan AR berhasil mengenal DF lebih jauh. Mereka jadi lebih sering menghabiskan waktu berdua. AR juga mulai sering menelepon DF. Hubungan mereka semakin akrab.
Semuanya terus seperti itu sampai kelas tiga, semester dua. Hubungannya sangat dekat, tapi tanpa ada status pacaran. Entah kenapa, setiap kali AR menyatakan cinta pada DF, selalu saja dijawab, "Aku lebih nyaman kayak gini."
Iya, AR sering menyatakan cintanya pada DF. Tapi AR tidak pernah tahu, kenapa ia bisa jatuh cinta pada DF. Semuanya berawal dari hal sederhana, semuanya berawal dari hal yang biasa-biasa saja. Semuanya tidak pernah direncanakan. Dan semuanya berlalu begitu saja.
-29 Juli, 2009-
Siang itu, AR sedang berkumpul dengan teman-temannya di Dapla, Bandung. Tiba-tiba hp AR berbunyi, terdapat sebuah sms dari DF, "Kamu bisa ke sini gak? Aku di terminal Lw. Panjang."
Mendapati sms seperti itu, tentu saja AR menyanggupi permintaan DF. AR segera pergi ke terminal untuk menemui DF. Sesampainya di sana, AR melihat orangtua DF membawa beberapa koper. Sedangkan DF hanya berdiri dengan tangan kosong.
"Mau ke mana, Pak?" tanya AR pada ayah DF.
"Ini, bapak mau pindah ke Surabaya, soalnya bapak dapet tawaran kerja di sana. Gajinya lumayan besar. Jadi, ya bapak ambil saja." jawabnya, dengan senyum santai.
"Kalo kamu, mau ke mana?" tanya AR pada DF.
"Ikut ayah aku."
"Ke-kenapa?" AR mulai lemas dan bingung.
"Sini, kita ngobrol di situ aja." jawab DF, sambil berjalan sedikit berjauh dari orangtuanya.
AR mengikuti DF dari belakang. Mereka berdua berjalan dan berhenti di depan Indomaret, terminal Leuwi Panjang. AR berdiri terpaku, menunggu penjelasan dari DF. Suasana terminal Leuwi Panjang saat itu sangat ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Beberapa di antaranya adalah pedagang kaki lima, yang dengan semangat menjual dagangannya. Beberapa di antaranya lagi adalah orang-orang yang sedang sibuk membawa ransel dan koper.
Di antara keramaian ini, AR menyadari bahwa ada satu tempat yang sepi. Hatinya. Dari kebisingan yang dibuat oleh orang-orang sekitar, AR sadar bahwa hatinya malah sepi karena akan kehilangan orang yang sangat dicintainya.
"Maaf, tapi aku harus pindah. Ayah aku dapet tawaran kerja di Surabaya." ucap DF, setelah beberapa detik terdiam.
"Jadi, kamu ikut pindah?" AR masih tidak percaya.
"Iya, maaf ya.."
Kini DF menundukkan kepalanya.
"Kok ngedadak? Kenapa gak ngasih tahu dari sebelumnya?" tanya AR, masih meminta penjelasan.
DF mencoba menatap AR, "Aku cuma gak mau ngeliat kamu sedih."
"Tapi sekarang kamu ngeliat aku sedih." suara AR terdengar sangat lemas.
"Kamu bakalan seneng, kalo sekarang aku bilang, aku sayang kamu.."
AR hanya diam, memandang wajah DF.
"Aku suka kamu dari pertama kita ketemu," tutur DF, "Dan aku sayang kamu semenjak kamu deketin aku."
"Kenapa kamu gak bilang dari dulu?" tanya AR, yang sedikit kecewa karena DF tidak pernah berkata jujur dari dulu.
"Kalo kita pacara, perasaan ini gak akan sampe kayak gini. Maaf, aku harus pergi sekarang."
Kemudian DF pergi meninggalkan AR, terpaku seorang diri. Dari kejauhan, AR melihat DF menangis di kursi bus. Saat bus mulai berjalan, kalimat terakhir yang diucapkan DF sebelum pergi masih terngiang di kepalanya, "AR, aku sayang kamu.."
Sejak kepergian DF berlalu, hubungan mereka jadi komunikasi jarak jauh. Selama dua bulan menjalani LDR, ada banyak rasa rindu yang dirasakan oleh AR. Mereka yang dulunya selalu main, sekarang terpisah oleh jarak. Mereka yang dulunya sering jalan-jalan, sekarang terpisah oleh waktu. Yap, ruang dan waktu lah yang memisahkan mereka. Tapi kondisi seperti ini tidak membunuh rasa AR pada DF. Cinta yang ia tanam dihatinya, masih tumbuh meskipun kini DF sudah jauh di sana.
Beberapa bulan berikutnya, tiba-tiba nomor DF tidak bisa dihubungi. AR sempat berpikir, "Mungkin dia sudah punya yang baru." tapi semakin AR mencoba melupakan DF, justru semakin kuat kalimat yang diucapkan DF sebelum mereka berpisah, "Aku gak mau nyakitin kamu ketika kita udah saling sayang, terus tiba-tiba aku ninggalin kamu." kalimat itu selalu menghantui pikiran AR.
Dengan modal nekat, AR berencana untuk menyusul DF ke Surabaya. Kebetulan AR punya teman di sana, dan kebetulan AR masih ingat bahwa DF tinggal di daerah Gunung Anyar. Sekitar satu bulan, AR dan Fikri mencari-cari alamat DF. Tapi usaha mereka sia-sia. Mereka tidak pernah menemukan tempat tinggal DF.
Sampai akhirnya AR benar-benar merasa gagal, dan putus asa. AR sudah mencoba melupakan pencariannya. AR hanya ingin pulang sekarang dan mencoba menerima semua ini. Sebelum AR pulang, Fikri menawarkan untuk makan siang dulu. Fikri tahu, pikiran dan perasaan AR sedang kacau, ia tidak ingin bila AR kenapa-napa selama di perjalanan pulang. Akhirnya mereka makan dulu di warung bakso pinggir jalan.
Entah sial atau beruntung, ketika AR menyebrang jalan untuk membeli minum, AR tertabrak oleh mobil. Ada luka serius di kepalanya. AR tidak bisa bangun, dan jatuh pingsan saat kecelakaan itu. Mobil yang menabraknya itu adalah mobil karyawan, yang kebetulan ayahnya DF adalah salah satu dari karyawan tersebut.
"Aaww.." ucap AR, ketika ia terbangun, sambil memegang tangannya.
Saat mulai sadar dan mengetahui bahwa dirinya ada di rumah sakit, ia dikejutkan oleh seorang sosok yang berdiri di samping kirinya. Seorang sosok berwajah ramah, yang sudah tidak asing baginya.
"Pak? Kok bapak ada di sini?" tanya AR, pada ayah DF.
Tapi ayah DF hanya tersenyum, lalu pergi keluar.
AR menyusul ayah DF, berlari keluar, dengan tujuan ingin bertanya-tanya lebih banyak pada ayah DF.
"Pak, Pak.. tunggu, Pak.." teriak AR dari arah belakang.
Ayah DF sempat berhenti melangkah.
"Pak, saya mau ketemu DF, bisa antar saya ke DF?" pinta AR, dengan harapan bisa mendapatkan sebuah jawaban atas pencariannya selama ini.
"Makasih, kamu udah bela-belain dateng dari Bandung, cuma buat ketemu DF." jawab ayah DF, masih dengan wajah ramahnya, "Tapi sekarang mending pulang. DF gak mau ketemu kamu."
KAGET, SEDIH, KECEWA.
Semua rasa itu bercampuraduk dalam hati AR.
Ayah DF pergi, berlajan lagi. AR hanya diam, dan pasrah.
Seminggu kemudian, AR mendatangi kantor tempat ayah DF bekerja. AR tidak mau semua perjalanan ini berakhir sia-sia. Meskipun ayah DF bilang bahwa DF sudah tidak ingin bertemu dengannya, tapi AR masih percaya, bahwa DF juga bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan olehnya. Rindu.
"Lho, kamu masih di sini?" ucap ayah DF, saat melihat AR mendatangi kantornya.
"Iya, Pak. Saya gak akan pulang sebelum ketemu DF."
Raut wajah ayah DF mulai berubah menjadi sedih. Ada ekspresi haru di wajahnya.
"Yakin, kamu mau ketemu DF?"
"Iya, zpak." jawab AR, mengangguk mantap.
AR pikir, mungkin DF sudah benar-benar punya yang baru, dan ingin melupakan AR. Kalo pun memang begitu jadinya, AR hanya ingin bertemu dengan DF, walau mungkin hanya untuk yang terakhir kalinya. Walau AR tahu, bahwa ia sangat mencintai DF, tapi AR mencoba dewaasa, mungkin jarak dan waktu bisa mengubah perasaan DF padanya.
Akhirnya AR diajak ke tempat tinggal DF. Sepanjang perjalanan, AR berusaha memikirkan hal-hal yang positif. Meskipun tebakannya berkata bahwa ia akan melihat DF bersama laki-laki lain, tapi AR tidak ingin merusak perasaan bahagianya ini. Bisa bertemu dengan DF saja, sudah cukup membuat AR bahagia.
Lama-lama, AR mulai bingung. Kenapa tempat tinggal DF seperti ini. Belum sempat AR bertanya, ayah DF sudah menjawab, "Itu tempat tinggal DF." sambil menunjuk ke arah padung bertuliskan nama seorang gadis yang sangat dicintainya. Pikirannya kembali kacau. Di mana DF? Di mana pacar barunya? Kenapa hanya ada kuburan? Kenapa?!
AR terisak menangis, memeluk padung itu. Kini, hanya penyesalan yang ada di pikiran AR. Rasa sesal yang tidak mencarinya sejak dulu, rasa sesal yang tidak bisa melihat senyumnya untuk yang terakhir kali, rasa sesal yang tidak bisa memeluknya untuk terakhir kali. Sekarang semuanya hanya menjadi penyesalan.
"Relakan, ikhlaskan, doakan. Kamu anak yang baik." ucap ayah DF, sambil mengusap pundak AR.
DF meninggal tanggal 29 Agustus, 2010. Karena infeksi hati yang sudah lama dideritanya. DF selalu menolak AR untuk menjadi pacarnya, karena DF tahu bahwa semua ini akan terjadi. DF hanya tidak ingin bila nanti mereka pacaran, AR akan semakin sulit mengikhlaskan kepergian DF. DF selalu menyayangi, dan mencintai AR setulus hatinya.
0 comments
Post a Comment