Sunday, 16 November 2014

Oh, Gini Rasanya Jadi Orang Sibuk?

Tiga bulan terakhir di tahun 2014 adalah bulan yang sibuk. Di awal semester dua tahun ini, gue udah niat buat refreshing, atau minimal cuma fokus sama prakerin. Tapi nyatanya gue tetep banyak tugas. Jadwal liburan di akhir tahun pun gue urungkan untuk sementara waktu. Oke, di semester awal tahun 2015 nanti gue harus benar-benar bisa liburan!

Ehm. Sebenernya itu juga alasan kenapa beberapa minggu ini gue belum posting lagi di blog ini. Tapi gue selalu berusaha untuk tetap update kok. Dan usaha gue kemarin cuma nyampe dua postingan di mading digital gue. Buat temen-temen yang mau check, bisa visit Tumblr gue di: rakaprasetyaa.tumblr.com ;)

***

Waktu kemarin posting di Tumblr, last update gue adalah ini:


Itu buku diary gue, yang gue punya dari tahun 2011.

Iya. Gue punya buku diary waktu kelas 3 SMP. Tapi baru mulai nulis pas udah masuk kelas 1 SMA. Pertama kali nulis di situ sekitaran akhir Desember 2011. Kebanyakan isinya sih, curhatan sehari-hari gue di sepanjang tahun 2012. Ada tentang beberapa mantan, pengalaman, puisi, gambar, dan banyak lagi. Buat temen-temen yang mau liat, ini gue ada beberapa poto isi dari buku diary gue:


Kalo nggak kebaca, gue tulis isinya di bawah.

Bandung, 4 Januari 2012.

Tadi pagi, ya seperti biasa, bangun lalu mandi terus makan dan nonton tv. Hari ini mumet banget. Masalah ini, masalah itu, di mana-mana ada masalah.

Malam hari, pukul 08.05 WIB.
Tiba-tiba ada rasa ingin buang air kecil. Ya, ke wc, keluar dari wc, ke atas lagi, masuk kamar..

Perasaan bete banget. Serasa pengin bunuh diri. Aku lari ke dapur niatnya mau nyari pisau buat bunuh diri. Tapi pisaunya nggak ada. Pas mau balik, nggak sengaja liat serpihan beling pecahan gelas. Sejenak kepikiran buat goresin itu ke tangan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, daripada lakuin hal itu, mendingan ambil belingnya, rapiin, rakit ulang pake lem jadi gelas lagi. Akhirnya minum deh.. eh, betenya ilang.

Ternyata,

Faktor bete itu adalah: Kehausan.


Judul diary ini: Lupakan soal bunuh diri.

Pesan moralnya:

Terkadang, dalam hidup ini kita akan menemukan beberapa masalah. Mulai dari yang sepele, sampe masalah yang nggak bisa ditahan lagi. Terkadang juga, kita pasti kepikiran buat lakuin hal-hal bodoh. Sebagian dari kita bakal bilang, "Ya, nasi udah jadi bubur. Mau diapain lagi? Hidup emang kayak gini."

Kalo nasi udah jadi bubur, jangan dibuang. Tapi tambahin kecap, kerupuk, dan beberapa suir daging ayam, santap deh. Masih nikmat, kan? ;)

Selain curhatan, ada juga beberapa kata-kata bijak seperti ini:


Gue tulis ulang di bawah lagi, ya..

Tak perlu menyesal karena pernah mencintainya, tapi bersyukurlah karena punya pengalaman dan pelajaran darinya.

Pernah hancur karena seseorang bukan berarti harus hancur untuk selamanya!

Mantan bukan untuk dibenci, tapi untuk dijadikan pelajaran. Pengalaman bersamanya adalah bekal untuk bersama seseorang yang baru.

Kenangan bersamanya bukan untuk dilupakan, tapi untuk diingat dan disimpan di hati paling dalam.

Pacar pertama bukan berarti cinta pertama.

Menyesal tak akan mengubah apa pun. Maka dari itu, jangan menyesal. Coba berdoa dan mensyukuri apa yang telah terjadi.


Iya, kata-kata bijak gue berbanding lurus dengan kegalauan. Maklum, waktu itu, gue masih remaja yang rentan galau kayak kalian sekarang. Huehehe.

Nggak cuma curhat sama quote, gue juga dulu suka nulis puisi. Ini ada salah satu puisi yang pernah gue tulis untuk seseorang:


Sengaja dihiasi gambar dan warna supaya kelihatan puisi berkelas.

Belum pernah aku merasakan cinta seperti ini. Kau buat aku merasakan apa yang tak terpikirkan. Selalu ada caramu yang mampu buatku tersenyum. Ku ingin semua ini bertahan sampai waktunya.

Jika sekuntum bunga tak mampu mengibaratkan cintaku, serangkai kata-kata tak mampu mengibaratkan sayangku..

Maka, dengarlah suara hatiku yang meyakini bahwa hanya kau lah wanita yang ku pilih. Hanya dirimu satu, tak ada yang lain.

Aku membutuhkanmu seperti aku membutuhkan udara untuk bernafas. Karena kau memberiku kebebasan untuk hembuskan setiap cintaku padamu.


Oke, gue tahu, gue alay.

Ya, daripada kalian muntah-muntah baca tulisan alay gue, mending kita sudahi saja spoiler isi buku diary gue itu. Sekarang gue mau ngasih liat beberapa gambar. Dari kecil, gue emang seneng ngegambar. Makanya di beberapa halaman diary ada sedikit gambar yang keselip:


Gambar tentang galau warming.

Kalo yang ini gambar tentang deskripsi cinta menurut gue:


Unyu banget ya gambaran gue..

Tapi ya, itu lah gue dan buku diary yang gue punya waktu zaman kelas 1 SMA. Dengan semua kealayan kami yang tertera jelas seperti di atas, dengan itu lah gue membuktikan bahwa buku adalah satu-satunya bentuk mesin waktu yang paling nyata. Karena dengan masih adanya tulisan-tulisan gue di sana, ketika gue baca ulang sekarang, ingatan gue akan kembali ke masa kejadian itu berlangsung. Terkahir kali nulis di situ tanggal 7 Juni 2012.

Dan yap, setelah dua tahun nggak dibuka apalagi dibaca, ternyata masih ada tiga lembar terakhir yang masih nyisa. Rencananya, gue mau nulis di tiga lembar tersebut, dan buku diary itu pun resmi selesai gue tulis. Im so insecure with this! :))

***

Nah, sekarang gue mau cerita sedikit kenapa gue mau nyelesain buku diary itu.

Jadi, ceritanya gini..

Kemarin pagi gue nemu sebuah benda yang sempet bikin gue ngakak untuk beberapa saat. Iya, itu adalah buku diary bersampul biru, bergambar Jang Emqi, karakter kartun dari Aa Gym. Pertama liat benda itu, gue terkejut dan spontan gue bilang, "Gila, itu buku diary gue!" ada seneng campur kaget juga bisa liat buku itu lagi. Kebayang aja, udah dua tahun gue nggak liat buku itu.

Karena rasa kangen yang mendalam, gue pun iseng-iseng buka dan baca ulang semua tulisan gue di situ. Lembar demi lembar gue buka, ada senyum campur tawa. Meski jujur, gue sedikit kesulitan baca tulisan sendiri. Hahaha. Bukan masalah tulisannya jelek, tapi tulisan gue waktu dulu nggak rapi. Maksudnya nggak sesuai EYD. Jadi agak rumit juga bacanya. ;p

Setelah beberapa saat nostalgia sama tuh buku diary, gue pun telah sampai di lembaran terakhir. Gue liat, ada tiga lembar yang tersisa. Sempet ngelamun bentar, nulis lagi nggak ya? Kalo abis, beli kertas buat nambahin lagi nggak ya? Dan beberapa pertanyaan lain.

Tapi setelah gue pikir-pikir, ah, mending gue selesain aja dulu yang tiga lembar terakhir, terus tutup bukunya. Iya, gue berencana buat nyelesain diary itu sampe tiga lembar terakhirnya aja. Gue nggak mau nambahin kertas lagi. Kenapa? Karena sekarang gue udah punya blog. Gue udah punya buku diary versi digital yang lebih keren. Kalo buku diary gue yang berbentuk kumpulan kertas itu, gue anggap harta dan bukti nyata perjalanan gue di tahun 2012. Untuk sekarang dan ke depannya, gue curhat di blog ini aja.

Ada yang tahu kenapa gue masih tetep nulis sampe sekarang? Yap. Karena gue pengin punya dokumentasi pribadi. Gue pengin punya sesuatu yang bisa menjadi penjelas sejarah hidup gue. Semua tentang pengalaman pribadi, opini, dan masih banyak lagi, gue pengin semua itu ada di sini. Buat apa? Buat semua temen-temen, buat adik-adik gue, bahkan buat nanti kalo gue udah punya keturunan, gue bisa bilang dengan gagahnya, "Nak, bacalah sejarah hidup bapak." sambil nepuk pundak anak gue. Itu kesannya gue kayak bapak-bapak berwibawa tingkat dewa.

***

Dari buku diary itu juga lah, gue belajar satu hal:

Kesedihan di masa sekarang adalah bahan tertawaan di masa depan. Entah kenapa, gue ketawa-ketawa aja baca cerita-cerita gue dua tahun yang lalu, meski isinya galau melulu. Hahaha.

Maka dari itu, menulislah, kawan. Dan gue sangat bersyukur diberi hobi suka menulis. Nggak nyangka aja, dari hobi gue itu, gue bisa belajar banyak hal. ;)

0 comments

Post a Comment