Tuesday, 16 September 2014

Yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Pacaran

Kemarin malem gue dikejutkan oleh sebuah berita dengan headline: "Suami Tewas di Tangan Istri, Hanya Karena Gula Pasir di Rumah Habis" lewat akun twitter koran digital Pikiran Rakyat:


Setelah gue ikuti beritanya lebih jauh, ternyata sang istri sudah lama tidak mendapat kasih sayang dari sang suami. Maka dari itu, gula pasir pun menjadi pelampiasan untuk mendapatkan rasa manisnya dicintai. Sangat ironis.

Nah, dari contoh kasus di atas, sudah jelas bahwa sang suami memang salah besar. Kenapa juga ia tidak menyayangi istrinya? Coba kalo dia sayang sama istrinya, pasti gula pasir pun nggak akan menjadi pelampiasan. Kasihan gula pasir.. mereka kecil, mudah rapuh, sering diacuhkan, dan mirip banget sama hati gue. Oke, yang ini gue curhat. Sorry.

Melihat contoh kasus di atas, tentu saja gue jadi terdorong untuk menulis postingan ini. Dengan tujuan, kasus seperti itu tidak akan ada lagi di masa depan. Gue khawatir aja, kalo semua ini dibiarkan, besok-besok bakalan ada segerombolan ibu-ibu yang menikahi pabrik gula (niat banget). Dan supaya hal itu tidak terjadi, sekarang gue mau memberi tips tentang: "Hal-hal yang tidak boleh dilakukan saat pacaran!"

Ini apa hubungannya ya gula sama pacaran? Bodo amat lah. Yang penting nulis aja, nyambung atau nggak urusan belakangan. Hajar!

***

1. Marah di tempat umum

Siang itu Juhro lagi makan bakso bersama Ani, kekasihnya tercinta. Di tengah-tengah kenikmatan menyantap bakso, tiba-tiba saja ponsel Ani berbunyi. Terdapat sebuah BBM dari seseorang.

"Dari siapa?" tanya Juhro, penasaran.

"Darhi temhen, beibhz.." jawab Ani, sambil ngunyah bakso sama sendoknya. "Biasha, si Dodhi mintha anther ke tokho bukhu! Kathanya adha tughas githu!"

"Dodi? Kan, kemarin kalian baru ke toko buku? Masa udah ke toko buku lagi sih?" timpal Juhro, sedikit menaikkan nada bicaranya karena emosi, campur cemburu.

"I-iya, beb, kemarin emang ke toko buku. Sekarang ke toko buku lagi. Kan tadi aku bilang, katanya ada tugas tambahan gitu." jawab Ani, mencoba menjelaskan.

Mendengar itu, Juhro mulai kesal karena udah satu minggu ini, Ani sering jalan sama Dodi. "Kayaknya kalian ada hubungan ya? Kamu selingkuh, kan? Ngaku deh!"

"Beb, kamu ngomong apaan sih? Jangan rempong gitu deh. Sebel aku liatnya!" seru Ani, yang juga mulai ikut emosi.

"Ah, udah lah, aku tahu kamu selingkuh sama Dodi!" teriak Juhro, sambil gebrak meja mirip Arya Wiguna. "Aniii.. ini gaya kamu, kan? Iya, kan? Lihat Ani, lihat! Semuanya akan habis!"

"Apanya yang habis?"

"BAKSONYAAA! AKU TELAN SEMUANYA! BIAR AKU MATI, BIAR KAMU PUAS DENGAN SEMUA INI! AKU CAPEK SAMA KAMU!"

Ani, yang saat itu udah mau nangis, cuma bisa diam melihat sikap Juhro yang semakin menggila.

"Kita putus!" kata Juhro, seraya menancapkan garpu pada sebuah bakso.

"Kok putus?" tanya Ani, dengan nada memelas, dan air mata yang mulai keluar dari telinganya.

"Emang kenapa? Kamu nggak suka?!"

"Ya bukannya nggak suka! Tapi, ya nggak kenapa-napa juga sih.." Ani menggaruk kepalanya. "Tahu ah, pusing aku. Ya udah, putus. Bye!"

Akhirnya mereka pun putus di tempat bakso. Semenjak kejadian itu, Ani tidak pernah mau makan bakso lagi. Selidik punya selidik, Ani merasa trauma berat jika melihat bakso. Ya, begitulah wanita, akan merasa trauma jika dipermalukan di tempat umum.

Nah, dari cerita singkat barusan, kalian udah ngerti, kan? Kalo ada masalah itu jangan marah-marah. Tapi selesaikan dengan kepala dingin (ngobrol di dalem kulkas). Lagi pula, marah itu nggak akan menyelesaikan masalah. Justru menambah masalah baru. Makanya, kalo ada apa-apa itu selesaikan berdua secara baik-baik, bukannya marah-marah nggak jelas. Apalagi kalo posisinya lagi di tempat umum. Nggak baik. Kalo pacar kalian mirip sama si Juhro.. udah, putusin!

2. Sengaja bikin cemburu

Selesai makan siang di restoran, Juhro berencana mengajak Ani untuk nonton bioskop. Hari ini mereka memang sudah sepakat untuk menghabiskan waktu bersama-sama. Sambil menunggu jam tayang film yang akan ditonton, Juhro mengambil ponselnya, dan memperlihatkan poto wanita cantik pada Ani.

"Beb, ini namanya Intan. Adik kelas aku di sekolah." kata Juhro, sambil menunjukkan poto Intan.

"Cantik juga. Emang kenapa, beb?" tanya Ani, tanpa ada rasa curiga.

"Si Intan itu suka sama aku, beb. Dia sering ganjen kalo di sekolah. Pokoknya, Intan itu udah mirip sama cabe-cabean lah. Tapi karena dia masih kelas 3 SD, mungkin lebih tepatnya biji cabe."

"Ganjen? Ganjen gimana maksud kamu, beb?" tanya Ani, meminta penjelasan yang lebih detail.

"Iya gitu, kalo pagi-pagi sebelum bel masukkan, dia suka senyum ke aku pas berpapasan di lapang. Kalo jam istirahat ketemu di kantin, dia suka ngejajanin aku yang mahal-mahal. Begitu pulang ketemu di gerbang, aku ditagih suruh bayar. Romantis banget deh!"

Sampai pada obrolan ini, tentu saja Ani merasa cemburu, dan sedikit mual-mual mendengar cerita Juhro. Tapi Ani tetap tutup mulut, membiarkan Juhro menyelesaikan ceritanya.

"Terus ya, kemarin aja dia ngirim mention ke twitter aku! Katanya: 'follback dong qaqa..' gitu!" sambung Juhro, melanjutkan cerita dengan nada semakin serius.

"Terus, kamu follback dia?"

"Ya enggak lah! Aku kan bingung, follback itu fitur apaan? Aku udah cari-cari, tapi adanya cuma tombol follow sama block doang! Ya aku banting komputernya!"

Ani pun salto di tempat 70 kali.

"Kamu suka sama dia?" tanya Ani, sedikit penasaran.

"Enggak juga. Emangnya kenapa? Kamu cemburu ya?"

"Hah? Engg-enggak kok! Masa aku cemburu? Sorry ya, nggak banget deh. Hih!"

"Ah.. ngaku aja deh, kamu cemburu, kan?" kata Juhro, terus memancing emosi Ani.

"Iya aku cemburu! Puas?!"

"Hahaha. Tenang aja, beb. Aku nggak akan pergi dari kamu kok. Aku cuma ngetes aja tingkat kesetiaan kamu. Lagian, cerita Intan itu bohongan. Aku aja nemu potonya di google. Tapi kalo cerita aku nggak tahu follback ya beneran." jawab Juhro, sambil nyengir dengan santainya.

"Ih! Jadi kamu cuma bercanda?!" timpal Ani, mulai emosi sambil menggerung-gerung motor Supra.

Juhro mengangguk mantap. "Hooh. Aku cuma ngetes aja. Hihi."

"Dasar cowok kampret! Bisanya bikin emosi aja! Gue geleng juga nih!" kata Ani, dan serius menggeleng Juhro.

Akhirnya, acara nonton bioskop pun berganti jadi acara sirkus geleng pacar di bioskop.

Yap. Sengaja bikin cemburu itu nggak boleh dilakuin. Apalagi dengan cara mengada-ada cerita. Kalo mau ngetes kesetiaan seseorang, nggak gitu caranya. Tapi coba deh, lo tanya sama diri lo sendiri: "Dia udah bisa nerima lo apa adanya belum?" kalo udah, itu sangat membuktikan bahwa dia tipe pacar yang setia. Karena kesetiaan bukan diukur oleh seberapa bisa ia menahan cemburu, melainkan oleh seberapa mampu ia memperjuangkanmu.

"Bertahan untukmu" dan "Memperjuangkanmu" itu beda makna, guys: kalo yang pertama berarti menahan diri untuk tetap bersama lo. Kalo yang kedua berarti berusaha untuk menjaga lo. Dan lucunya, ketika bersama belum tentu menjaga, sedangkan untuk menjaga nggak harus dalam kondisi bersama. Lebih keren yang mana? Ya menjaga lah.. tukang sayur lagi dikejar-kejar Satpol PP juga tahu, kalo menjaga hati itu bisa dari jarak jauh. Ya, kan, mang? Iya, gitu. Biar cepet.

3. Mogok bicara

Udah hampir dua bulan, Juhro mencoba bertanya pada Ani. Tapi malang nasibnya, Ani tak sedikit pun mau bicara. Entah apa yang sedang terjadi, yang jelas Ani tidak menguyah lem kayu sebelumnya.

"Beb, kamu kenapa diem aja sih?" tanya Juhro, yang entah ke berapa kalinya pertanyaan ini ia lontarkan.

"Beb? Kamu marah ya? Jawab dong?"

"Please, beb.. ngomong dong?"

Tapi Ani tetap diam seribu bahasa.

Nggak mau ngambil pusing, Juhro pun memilih ngambil sebongkah besi yang seukuran knalpot motor, lalu, "PLAK!" ia hantamkan besi itu ke kepala Ani, sekuat tenaga.

"WANJIR! SAKIT BEGO!"

Akhirnya Ani mau bicara, dan itu lah kalimat pertama yang keluar dari mulut seksinya, setelah ia membisu sekian lama.

"Nah, gitu dong! Ngomong!" ujar Juhro, dengan memasang wajah tanpa dosa.

"Sakit tahu! Kenapa kamu timpuk kepala aku sih?!" sewot Ani, sambil melotot seram. "Mau ngajak berantem ya?! Kamu nggak tahu papa aku siapa?!"

"Papa kamu? Tukang Tahu, kan?"

"Kok Tahu?"

"Ya iya lah Tahu. Kalo tempe, kok tempe?"

"Gue serius, semprul!" bentak Ani, masih mengusap-ngusap kepalanya yang mulai memar. Belum sempat Ani melanjutkan bicara, ia sudah dibawa ke rumah sakit terdekat. Kabar terakhir, kepalanya mengalami luka berat karena terhantam sangat keras. Ani pun diinfus pake air aki.

Nah, sifat si Ani itu jangan diikutin. Kalo kalian emang lagi ada masalah, ya obrolin secara baik-baik. Poin ini hampir sama kayak poin nomor satu. Bedanya cuma antara marah sama diam membisu. Tapi keduanya samasama salah. Meskipun diam itu berarti emas, tapi jangan lupa kalo emas juga bisa berkarat. Nah, diam membisu terlalu lama itu lah yang namanya emas berkarat. Kalo udah karatan, ya nggak laku lah. Malah lebih murah daripada kayu. Kata siapa? Nggak tahu, gue cuma ngasal aja biar kelihatan pinter.

Ya intinya: kalo lo bukan Master Limbad, nggak usah lah lo pura-pura kalem gitu. Dan kalo pacar lo bukan Deddy Corbuzier, nggak usah lah lo berharap dia bisa ngertiin bahasa tubuh lo. Karena dalam kondisi apa pun, bicara itu jauh lebih baik daripada diam tanpa kata. Oh kecuali kalo pas bel bubaran sekolah udah bunyi, dan guru sempet-sempetnya nanya: "Sebelum pulang, apa ada yang masih belum jelas?" mending diem aja. Dalam kondisi ini, hukum emas bisa berkarat nggak berlaku. Yang ada juga kalo lo bicara, lo bakal digebugin sama anak satu kelas. Ini serius!

4. Meremehkan usahanya

Setiap malam minggu tiba, Juhro selalu mengayuh kebut sepedanya. Meskipun jarak yang ia tempuh sangat jauh, tapi rasa cinta tidak pernah membuat ia lelah. Ke mana Juhro pergi? Ya ke mana lagi kalo bukan ke rumah Ani. Kenapa ke rumah Ani? Karena kalo ke Rumah Makan nggak punya uang.

Singkat cerita, Juhro pun telah tiba di rumah Ani. Jarak Bandung - Jakarta telah berhasil ia tempuh malam ini. Sayangnya, Juhro berangkat malam minggu, nyampe di Jakarta udah malam rabu.

"Beb, maaf aku telat lagi! Hosh.. hosh.. tadi ban sepeda aku bocor tujuh kali!" kata Juhro, sambil ngos-ngosan.

"Iya, nggak apa-apa." jawab Ani, singkat.

"Beb, boleh aku minta air minum? Hosh.. capek banget.." pinta Juhro, masih dengan napas yang tak beraturan.

Ani mengangguk pelan, lalu ia mengambil segelas air, dan memberikannya pada Juhro.

"Nih, airnya.." kata Ani, seraya memberikan gelas itu.

"Makasih, beb.." Juhro menangis bahagia. "Aku minum ya? Glek.. glek.. glek... aahhh..."

"Sudah?"

Juhro mengangguk. "Sudah. Hehe."

"Sekarang aku mau ngomong sesuatu sama kamu."

"Apa?"

"Kita putus.." ucap Ani, tanpa basa-basi.

Juhro terkejut. Juhro kecewa. Juhro hamil. Eh, nggak deng. Juhro kan, laki-laki.

"APPAHH? PUT-PUTUSS?!" tanya Juhro, yang masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

Kalo di sinetron-sinetron RCTI, pada bagian ini wajah Juhro akan di-zoom, dan berfokus di lubang hidung yang kembang kempis. Kalo di laga sinetron Indosiar, Juhro tiba-tiba berubah jadi siluman kadal raksasa. Sedangkan di film Bollywood dari India, Juhro akan menari-nari sambil nyanyi kayak orang frustasi lagi ritual penyembahan dewa hujan.

"Iya, putus! Soalnya kamu nggak pernah ngajak aku jalan-jalan!" ujar Ani, menjelaskan. "Setiap malam minggu cuma di rumah terus, ditambah lagi kamu datangnya malam rabu mulu! Malam minggu berangkat ke sini, malam rabu baru nyampe. Malam rabu pulang ke rumah, nyampe sana udah malam sabtu. Kapan sekolahnya?! Terus aja berpetualang. Kamu ini bukan Dora The Explorer yang selalu jalan-jalan!!"

"Tapi, kan, semua ini aku lakuin demi kamu?"

"Bodo ah. Mau demi aku, mau demi kamu, atau demikian pun, terserah kamu!" bentak Ani, yang tidak memperdulikan semua pengorbanan Juhro.

"Tapi aku sayang banget sama kamu.."

"Kalo sayang, ya usaha lah! Masa tetep gini-gini aja? Kamu tahu nggak usaha itu apa?" tanya Ani, terus menyudutkan Juhro.

"Usaha? Usaha adalah sebuah gaya yang diberikan pada benda, sehingga benda tersebut mengalami perpindahan posisi. Kata guru fisika aku sih, gitu."

Hening.

"Udah lah, aku capek sama kamu. Mending kamu pulang aja. Aku lelah dengan semua ini. Bye!" ucap Ani, yang lalu segera menutup pintu rumahnya.

Juhro yang saat itu masih duduk di atas sepeda, kini hanya bisa melihat langkah kaki Ani pergi, sambil minum air oli karena sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit yang ia alami. Dua menit kemudian, Juhro pun dilarikan ke puskesmas terdekat.

Oke, mungkin sebagian dari kalian akan sependapat dengan Ani, bahwa pacar kayak Juhro harus diputusin. Tapi menurut gue, Juhro itu harus dipertahanin. Bukan, ini bukan karena gue homo. Tapi karena Juhro sudah berusaha mati-matian. Mungkin benar, usaha Juhro memang tidak seberapa, kalo dilihat pake kasat mata. Tapi kalo melihatnya pake hati, pasti kerasa bahwa Juhro itu udah berusaha semampu yang ia bisa.

Nah, di poin ini gue cuma mau bilang: jangan pernah meremehkan usaha seseorang, sekecil apa pun itu. Mungkin bagi kalian, usahanya memang hal sepele. Tapi pernahkah kalian tahu, kalo orang yang berusaha itu udah mencoba melakukan yang terbaik? Kalo ngeliat si Juhro, dia udah rela ngayuh sepeda Bandung - Jakarta, lho. Itu kalo di kehidupan nyata, mungkin begitu nyampe, paha si Juhro udah segede kaki gajah.

Ya pokoknya, jangan pernah meremehkan usaha seseorang. Karena belum tentu, ada orang lain yang mau berusaha seperti orang tersebut.

5. Banyak ngatur-ngatur

Sudah beberapa minggu ini, Juhro dibuat pusing sama sikap Ani. Juhro tahu, belakangan ini sikap Ani mulai berubah. Dulu, Ani itu cewek yang baik, tapi sekarang, Ani berubah jadi cewek yang serba ngatur, dan banyak ngelarang.

"Sayang.. di bio twitter kamu harus ada nama aku ya!"

"Sayang.. status di BBM kamu harus nama aku ya!"

"Sayang.. kalo kamu ujian nasional, isi namanya pake nama aku ya!"

Hampir semua hal harus selalu dikaitkan dengan nama Ani. Harusnya sih, Juhro marah. Tapi karena rasa cinta yang terlalu besar, Juhro pun menuruti semua keinginan Ani, meskipun tidak masuk akal.

"Sayang.. aku pengin makan. Teraktir aku ya?"

"Sayang.. aku nggak suka kamu temenan sama dia. Jauhin dia ya!"

"Sayang.. aku hamil. Kamu mau kan, tanggung jawab?"

Padahal hamilnya sama cowok lain.

Nah, dari contoh supersingkat di atas, bisa dilihat bahwa sikap Ani itu udah berlebihan. Mungkin Juhro 'iya-iya-aja' sama semua keinginan Ani. Tapi kita nggak tahu kan, gimana perasaan si Juhro? Bisa aja dia melakukan itu karena terpaksa. Terpaksa karena kalo keinginannya nggak dituruti, dia bakal diputusin sama si Ani. Semacam hukum ancam-mengancam gitu.

Kalo kata gue, terlalu banyak ngatur dan ngelarang pacar itu berlebihan. Sesekali, lo harus bisa ngasih dia kebebasan. Inget, lo itu statusnya cuma pacar, bukan Tuhan. Jadi, jangan terlalu berlebihan sama pacar. Kalo emang lo mau main atur-aturan, ya udah, jangan pacaran. Tapi main Tuhan-Hambaan aja. Lo jadi Tuhan, pasangan lo jadi Hamba. Kali aja lo jadi Firaun versi modern. Hahaha, terkutuklah kau! Hahaha.

***

Oke, dari kelima poin yang udah kalian baca, di sini gue cuma mau ngingetin: Jangan sia-siakan orang yang sayang sama kalian, dengan hal sepele yang bisa berakibat fatal.

Mungkin, marah-marah di tempat umum, sengaja bikin cemburu, mogok bicara, meremehkan usaha, dan banyak ngatur itu kelihatannya sepele. Tapi percayalah, semua itu bisa membahayakan diri kalian sendiri. Kalo kalian sering ngelakuin hal itu, niscaya pacar kalian bakal ninggalin kalian suatu saat nanti.

Nah, buat temen-temen yang baru punya pacar, silakan jaga pacar kalian. Buat temen-temen yang udah lama pacaran, silakan jaga hubungan kalian. Buat temen-temen yang nggak punya pacar, silakan... eh, tunggu. Kalian yang nggak punya pacar ngapain baca postingan ini? Kan, ini isinya buat yang pacaran? Ya udah, buat temen-temen yang nggak punya pacar, silakan cari pacar dulu. Supaya kalian kekinian. Ckck.

Ya udah, postingan kali ini gue tutup dulu sampe di sini. Yang positifnya diambil, yang negatifnya dibuang. Semoga dengan ditulisnya postingan ini, jumlah korban asmara semakin berkurang. Aamiin.

Ternyata, nulis bener capek juga ya..

0 comments

Post a Comment