Friday, 25 July 2014

Rebutan Komputer Yeah!

Sejak gue suka nulis, dan mulai serius mendalami dunia tulis-menulis, gue jadi lebih sering menghabiskan waktu di depan komputer. Kata salah satu penulis (gue lupa namanya), kalo kita mau menulis dengan mudah, maka biasakanlah untuk menulis. Mungkin ini kayak pepatah “Bisa Karena Terbiasa” yang sering gue baca di mana-mana.

Kata penulis terkenal juga: Semua pencapaian itu butuh proses, dan nggak instant. Makanya kita harus berani beraksi. Jangan cuma mimpi. Karena mimpi tanpa aksi itu sama aja bohong. Jangan takut gagal, karena keberhasilan memang butuh kegagalan.

Kalo dikasih gambar, mungkin kayak gini jadinya:


Sumber gambar: nyolong dari google.

Dulu, gue sempet nerapin pepatah itu dalam hal cinta. Waktu gue ngejar-ngejar Adinda, temen SMP gue, yang ada di kepala gue hanyalah “Bisa Karena Terbiasa”. Kalo gue terbiasa untuk ngejar-ngejar Adinda, gue pasti bisa dapetin dia. Tapi nyatanya: gue malah nggak bisa, terbiasa nggak bisa, meski udah dipaksa tetep nggak bisa, ah ya udah mati aja. Sejak saat itu, gue mulai ragu pada pepatah, dan mulai memilih pepatah yang masuk akal.

Tapi rasa ragu pada pepatah mulai hilang seiring gue suka menulis. Gue mencoba untuk kembali menerapkan apa kata pepatah. Alhasil, gue sering nulis setiap malem. Untuk menciptakan kebiasaan itu, gue pun meminta dukungan pada bokap dan nyokap. Gue minta supaya komputer yang ada di ruang tengah jadi dipindahin ke kamar gue.

"Bu, komputer pindahin ke kamar Aka, ya?" bujuk gue, pada suatu malam.

"Komputer?" tanya nyokap, meyakinkan permintaan gue.

"Iya. Lagian jarang ada yang pake, kan? Aka butuh buat ngerjain tugas, sama nulis."

"Oh. Ya udah, bawa aja."

Komputer pun resmi dipindahkan ke kamar gue.

Semuanya lancar-lancar aja, sampai pada suatu hari, Tsaqif, adik gue, minta supaya komputer dikembaliin ke ruang tengah. Dia emang masih suka main komputer, tapi cuma di hari-hari tertentu.

"Kak, komputer pindahin ke ruang tengan lagi, dong." kata Tsaqif, dengan wajahnya yang sangat meresahkan. "Tsaqif juga masih suka main."

"Ya kamu mainnya di kamar kakak aja." jawab gue, singkat.

"Apaan.." tiba-tiba Tsaqif menggerutu, "Kamar kakak suka dikunci, gimana Tsaqif mainnya?"

"Hmm.." gue berpikir dengan penuh keseriusan. "Ya udah, gini aja. Kamar gak akan dikunci, kamu bebas main kapan pun, tapi ada syaratnya?"

"Apa syaratnya?"

"Kalo udah beres main, semuanya beresin lagi." jawab gue, sok bijak. "Tuh, di atas komputer kakak tempelin kertas, tulisannya: Abis ngacak-ngacak, beresin lagi! Jadi kamu harus mau ngebersin kalo udah main."

"Oke." Tsaqif menyanggupi.

Semua rencana ini berjalan lancar. Adik gue juga memenuhi persyaratan yang kami buat. Sayangnya, dia suka bawa beberapa temennya ke rumah, dan kalo lagi main komputer, temennya suka ikut masuk ke kamar gue. Masalahnya, temen-temen Tsaqif itu tidak mengenal kebersihan, dan sebagian dari mereka sangat malas membaca. Akibatnya kamar gue tetep berantakan.

Pernah satu waktu, kamar gue dibuat mirip seperti kapal pecah. Ada sampah jajanan di kolong meja komputer, ada mangkok sayur kacang di atas CPU, ada wadah teh gelas kosong di lantai, dan banyak lagi. Yang paling bikin gue kesel, keyboard gue jadi banyak yang error gara-gara kemasukan bubuk keripik. Tentu saja gue tidak hanya diam atas perbuatan mereka. Gue sangat marah, dan kesal. Tapi karena mereka adalah temen-temennya Tsaqif, gue pun jadi melampiaskan semuanya pada Tsaqif (baca: anak ingusan yang dijadikan kambing hitam).

Gue yang masih duduk di kamar, memanggil Tsaqif untuk mengahadap kepada gue. Dalam posisi ini, gue baru tahu kalo jadi guru yang manggil murid nakal ke kantor itu kayak gini. Gue merasa keren.

Dalam hitungan detik, Tsaqif udah nongol di pintu kamar. Dia, dengan wajah polosnya bertanya pada gue, "Ada apa, kak?" sambil masih berdiri di depan pintu. Gue sempat mengela nafas sebelum buka suara. Gue juga harus memikirkan kalimat yang tepat untuk digunakan pada anak kelas 4 SD.

"Tsaqif! Kenapa kamu melanggar persyaratan?!" gue membentak dengan seram. "Kamu tidak bisa konsisten! Kamu payah! Kamu bukan laki-laki sejati! Dasar, anak ingusan yang tidak bisa memegang omongan!" tiba-tiba gue berubah jadi naga, dan mengeluarkan semburan api kayak di film-film Indosiar. Oke, yang ini cuma khayalan gue aja.

Akhirnya gue buka suara, "Tsaqif, kenapa kamar kakak acak-acakan?" tanya gue, meminta pertanggung jawaban atas perbuatannya.

"Itu mah temen-temen Tsaqif, kak." jawab Tsaqif, membela kehormatannya yang telah gue tuduh sebagai orang yang tidak bisa memegang omongan. "Tsaqif mah ngeberesin lagi, kalo sampah mah temen-temen Tsaqif yang gak ngeberesin."

Gue cukup malu karena sudah menuduh. Akhirnya gue mencari alasan lain, untuk menutupi kemaluan gue (maksudnya kemaluan di wajah, bukan kemaluan di balik celana. Lagian, celana gue juga nggak kebalik). Mengingat di atas CPU ada mangkok sayur kacang, gue jadi gunakan mangkok itu sebagai alasan.

"Terus, gimana soal mangkong sayur kacang? Itu punya kamu, kan?"

"Bukan, itu mah bekas Nasywa (adik gue yang lainnya), Tsaqif gak bawa makanan ke kamar kakak." jawab Tsaqif, masih membela kehormantannya.

"Oh.." nada gue mulai mengecil, pertanda bahwa gue benar-benar malu. "Kalo gitu, kenapa kamu gak kasih tahu temen-temen kamu? Harusnya kamu kasih tahu mereka, kalo mau main di sini jangan buang sampah sembarangan."

"Ah ribet, komputer disimpen di ruang tengah aja. Jangan di kamar kakak."

Suasana semakin tegang. Gue semakin panik. Sekarang Tsaqif jadi balik menyerang pada gue. Ini tidak baik. Gue harus mencari ide untuk memutar balikkan penyerangan. Komputer ini harus tertap di kamar gue. Tapi gimana caranya? Semua tuduhan gue meleset. Bahkan, sekarang gue berada di posisi kalah.

Akhirnya, dengan penuh rasa terpaksa, komputer pun dipindahkan ke ruang tengah. Ya, Tsaqif memenangkan perdebatan ini. Gue memang kalah telak. Darah itu merah, nasi itu putih, kekalahan itu menyakitkan, jenderal! Gue harus bisa berpikir secara rasional, dan lebih manusiawi supaya bisa merebut komputer itu kembali. Ini semua tidak boleh dibiarkan.

Setelah satu hari komputer berada di ruang tengah, yang berarti di luar kekuasaan gue, akhirnya gue menemukan solusi untuk mengambilnya kembali. Cara yang gue lakukan adalah: melakukan sistem tawar menawar. Tadinya sih, sempet kepikiran buat adu gunting-kertas-batu, tapi mau gimana pun juga, Tsaqif adalah anak laki-laki. Jadinya gue harus menyelesaikan ini secara jantan. Yap, sistem tawar menawar memang cara terjantan.

"Qif, gimana kalo kita berunding?" bujuk gue pada Tsaqif.

"Maksudnya?"

"Ya. Gimana kalo komputer disimpen di kamar kakak lagi?" kata gue, tanpa basa-basi.

"Imbalannya apa?"

Gue mengeluarkan benda kecil dari saku celana, lalu memberikannya pada Tsaqif, "Kunci kamar kakak buat kamu. Jadi kamu bebas keluar masuk kamar kakak."

"Serius?!" teriak Tsaqif, setengah nggak percaya atas tawaran yang gue berikan.

"Iya serius.."

"Yeah!" Tsaqif senang sambil lompat-lompat.

"YEAAHH!"

"Yeaaaahhh!!"

"YEAAAAAHHHH!!!"

"Tapi ini kunci lemari, kak?"

"Oh.. iya.. salah ngasih."

Setelah berunding, komputer pun berada di kamar gue lagi.

Ternyata, sistem tawar menawar memang ampuh. Asalkan tawaran yang diterima, sebanding dengan tawaran yang diberikan.

***

Well, itu cerita singkat gue sama Tsaqif sewaktu rebutan komputer. Dan tentunya, kompetisi ini dimenangkan oleh gue. Huahaha.

Tapi, gue bukan mau bahas tentang komputernya. Gue mau bahas tentang prosesnya. Kalo kalian perhatikan, demi merebut sebuah komputer, gue melakukan tiga cara: meminta, memaksa, dan menawar.

Mungkin ini adalah teori absurd, tapi siapa tahu bisa berguna juga. Gue cuma mau bilang, ketika kalian ingin mendapatkan sesuatu, dan sulit untuk meraihnya, maka lakukanlah cara ketiga itu. Cara tawar menawar.

Gini deh, terakhir kali gue putus sama pacar gue, itu gara-gara dia selalu bikin masalah, atau ngelakuin sesuatu yang gue nggak suka. Jadinya, setiap gue kasih tahu, dia selalu ngulang kesalahan itu. Dan karena gue udah capek, akhirnya gue putusin dia. Nah, kesalahannya: dulu gue cuma meminta, dan memaksa aja. Gue minta supaya dia berubah, nggak berhasil. Lalu gue paksa dia untuk berubah, tetep nggak berhasil. Dan gue putusin dia. Harusnya: gue nggak mutusin dia, tapi melakukan tawar menawar.

Kenapa? Karena tawar menawar adalah alternatif lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Bagusnya sih, cara memaksa itu diganti aja sama tawar menawar. Jadi, cara mendapatkan apa yang diinginkan itu ada dua: permintaan, dan penawaran. Karena penawaran lebih baik daripada pemaksaan.

Penawaran itu kan sistem barter, sistem saling tukar. Ada yang ditawarkan, dan ada yang diinginkan. Gue nawarin sesuatu, gue pun dapet imbalan sesuatu. Nah, kalo aja gue bisa sedikit lebih dewasa, dan melakukan penawaran pada pacar gue, mungkin gue nggak harus putus sama dia.

Buat kalian yang sekarang lagi berantem sama pacarnya, coba deh lakuin penawaran. Misalkan: "Kamu jangan gitu dong. Gimana kalo kita tawar menawar? Kamu berubah kayak dulu lagi, nanti aku juga ngasih apa yang kamu mau. Biar adil."

Tapi permintaan sama penawarannya harus sepadan ya! Jangan sampe, kalian minta sesuatu yang susah, tapi cuma ngasih yang mudah. Nggak adil, kan. Hehehe.

Udah sih. Gitu doang.

***

Tambahan:

Kemarin gue dapet chat dari salah satu mantan gue waktu SMP.

Katanya sih, dia mimpiin gue gitu:


Ternyata gue emang ngangenin ya..

Menurut teori Aristoteles: Kalo mantan mimpiin kita, itu artinya dia kangen sama kita. Menurut teori gue: biasanya kita bakal balik kangen sama si mantan.

Intinya: kalo lo mau dikangenin sama mantan lo, bilang aja ke dia: "Hey, semalem aku mimpiin kamu, lho.."

Niscaya, dia akan jawab: "Maaf, ini siapa ya?"

HAHAHAHA! :P

0 comments

Post a Comment