Dua hari kemarin rumah gue mati lampu. Gue yang baru bangun jam setengah 1 malem langsung kaget. Bukan kaget karena gelap, tapi kaget karena gue baru bangun jam segitu. Bayangin aja, gue tidur jam 7 malem, bangun-bangun jam setengah 1 tengah malem. Kenapa harus kebangun tengah malem? Entahlah. Gue juga nggak ngerti.
Oke, sebelumnya gue mau kasih tahu duku kalo akhir-akhir ini gue lagi banyak kegiatan. Gue sendiri juga enjoy banget ngejalaninnya. Kalian tahu kegiatan gue apaan? Betul. Kegiatan gue adalah tidur, bangun, makan, mandi, lalu nyalain komputer, dan nulis naskah. Saking sibuknya nulis, gue suka lupa waktu. Pernah waktu itu gue nulis dari jam 11 malem, sadar-sadar jam setengah 5 pagi. Itupun karena ada adzan subuh. Kalo nggak ada adzan, mungkin gue bakal terus nulis, nulis, dan nulis. Sadar-sadar pas gue udah jenggotan, dan berusia 70 tahunan.
Horor emang..
Terlepas dari kegiatan nulis naskah, gue juga suka kepikiran sama nulis blog. Yap, dari blog inilah semuanya dimulai, jadi gue juga bakal tetep nulis blog. Kenapa? Karena gue tahu bahwa gue punya pembaca di blog ini. Dan gue nggak akan lupain kalian. Bagi gue, pembaca blog ini adalah orang-orang yang mengapresiasikan tulisan gue. Jujur, gue seneng banget. Hehehe. Awal ngeblog sih, emang nggak pernah kepikiran buat ada yang baca, bodo amat mau dibaca atau enggak, yang penting gue nulis. Tapi pas gue tahu ada yang baca, dan pembaca itu ngasih feedback via twitter, atau kontak gue yang lainnya, gue jadi seneng, dan, "Oh.. ternyata ada yang baca tulisan gue." Sumpah, gue seneng, gue terharu, gue garuk-garuk pantat.
***
Ya udah, cukup basa-basinya. Sekarang gue mau cerita tentang jalan-jalan kemarin ke Cicalengka. Ada yang tahu Cicanglengka? Kalo belum tahu, silakan buka google.
Hari kamis minggu kemarin, gue sekeluarga pergi ke Cicalngka, silaturahmi ke rumah saudara. Gue, bokap, nyokap, Tsaqif, Kiki, dan Nasywa berangkat jam 5 sore. Nyampe-nyampe jam 9 malem. Lama ya? Padahal lewat tol. Belakangan gue baru tahu kenapa bisa lama, soalnya jalan di daerah Rancaekek lagi ada perbaikan. Makanya mobil ngestuck satu jam di Rancaekek. Sisanya karena jalannya emang macet.
Begitu nyampe di Cicalengka, gue langsung ketuk rumah si Maman, saudara gue. Terakhir kali gue ke Cicalengka itu sekitar 3-4 tahun yang lalu. Pas ketemu si Maman, ternyata dia udah berkumis, berjenggot, dan botak. Ternyata itu bapaknya si Maman. Gue salah orang. Gendok.
"Maman mana?" Tanya gue, pada bapaknya Maman.
"Lah, bukannya bareng sama Aka naik mobil?"
"Oh iya lupa." Gue baru inget, si Maman kan ikut sama gue ya. Bego.
"Man, keluar yuk?" Kata gue, pada Maman, "Aku kangen Cicalengka."
"Ini kan udah malem? Udah jam setengah 10?"
"Terus kenapa?"
"Ya udah, makan dulu sana. Udah makan, kita keluar."
"OKE!" Jawab gue, mantap.
Akhirnya gue makan dulu dengan penuh semangat. Gue makan sama telur dadar buatan Kang Eman. Kang Eman itu om gue. Selesai makan, gue langsung keluar rumah. Tapi si Maman malah pulang ke rumahnya. Dasar sinting. Katanya ngajak jalan-jalan, tahunya malah pulang. Kampret.
Karena si Maman pulang, gue pun jadinya keluar sama si Kiki. Kami pergi nyari warung yang paling deket sama parkiran mobil, karena gue tahu, nggak lama lagi bokap bakal ngajak pulang ke Bandung.
"Nah, warung ini aja, Ki." Kata gue, "Tempatnya gak jauh-jauh amat kok, parkir mobil di lurusan itu, kan?"
"Oke deh."
"Mas, djarum super satu ya.." gue membeli sebatang rokok pertama di Cicalengka.
Tiba-tiba...
"Kiki?!" Terdengar suara anak laki-laki dari seberang sana.
Si Kiki menghampiri orang itu, kemudian, "Eh, Kosim?!"
Gue langsung ikut menghampiri, dan gue selidiki wajahnya, ternyata emang si Kosim, temen main gue waktu di Cicalengka.
"Gila, nyet. Kamu udah tua sekarang!"
"Aku di sini, Ka.." jawab Kosim, "Itu temenku.."
"Oh.. santai. Santai. Cuma ngetes kok.. santai." Gue mencoba ngeles.
Setelah salam-salaman, gue, Kiki, Kosim, dan kedua temennya Kosim jadi ngobrol di pinggir warung. Dan lazimnya anak muda zaman sekarang, setiap ada cewek yang lewat pasti digoda. Gue jadi teringat pada Ani. Kalian tahu siapa Ani? Nanti juga kalian bakal tahu.
"Eh, Sim, si Ani.. masih tinggal di sini?" Tanya gue, pada Kosim.
"Masih.."
"Dia sekolah atau kerja?" Seinget gue, Ani itu beda setahun sama gue. Dan setahu gue, anak-anak di Cicalengka lebih milih kerja dibanding sekolah.
"Sekolah. Kelas 2 SMA sekarang.."
"Anter aku ke rumah si Ani, yuk?" Kata gue, "Soalnya bentar lagi aku pulang, masa gak ketemu Ani, gak enak."
"Ayoo.."
Kami pun jalan menuju rumah Ani. Gue juga masih inget rumahnya. Cuma gue malu aja kalo ngetuk rumah cewek jam setengah 11 malem, sendirian.
Begitu nyampe di depan rumahnya, "Ki, ayo ketuk pintunya." Kata gue, pada Kiki.
"Oke.."
Tok. Tok. Tok. Kiki mengetuk pintu.
"Ceklek.." suara pintu terbuka.
"Ada Ani?" Tanya Kiki, pada orang yang membuka pintu.
Gue melihat ke arah orang itu, waktu Kiki nanya, "Ada Ani?" Orang itu menunjukkan tangannya pada dirinya sendiri. Gue senyum dari kejauhan.
"Masih inget aku gak?" Kata gue, yang ada di seberang pintu.
Ani terdiam untuk beberapa saat.
"Ma-masih.." jawabnya.
"Siapa coba?"
"Ini Kiki," sambil menunjuk ke arah si Kiki, "Kamu.. Aka, kan?" Sambil menunjuk ke arah gue.
Gue senyum lagi.
"Hehehe. Masih inget ternyata." Gue berjalan menghampiri pintu. "Gak akan disuruh masuk nih?"
"Oh iya, ayo masuk.. ayo masuk.."
"Kayaknya dia salting, Ka.." kata Kosim, pada gue sambil bisik-bisik.
"Hahaha."
"Ayo masuk.." kata Ani, sekali lagi.
Kami semua masuk dan duduk. Ani langsung ke dapur, sambil bawa air minum.
"Kalo ngetuk pintu rumah orang jam setengah 11 malem, jadi bisa liat muka ngantuk yang punya rumah ya?" Kata gue, bergurau.
"Hahaha." Kosim, dan Kiki tertawa. Sedangkan Ani terlihat malu-malu.
Akhirnya kami ngobrol selama 15 menit. Karena nyokap gue langsung ngajak pulang.
"Tsaqif mana?" Tanya gue, pada nyokap.
"Nginep di sini."
Gue merdeka. Akhirnya hari-hari yang sudah lama gue nantikan telah tiba. Ini adalah hari kemenangan bagi gue. Darah itu merah, nasi itu putih, gue merdeka, Jenderal!
Dan malam itu juga gue bisa tidur dengan nyenyak.. oh.. indahnya malam ini.
***
Lanjut ke hari-hari berikutnya, gue ada kemping sama temen-temen gue. Kami berempat: gue, Ridwan, Irvan, dan Fazza akan kemping selama dua hari satu malam.
Ini keren! Gue akan bermalam di hutan! Wow! Ini akan jadi pengalaman yang tak terlupakan!
"Kempingnya di mana?" Tanya gue.
"Cicalengka."
MATI AJA LO, NYET!
"Cicalengka bukannya desa?" Tanya gue lagi.
"Ada hutannya kok, di gunung gitu."
"Emang ada gunungnya?"
"Ada."
"Yowes lah.."
***
Senin, 23 Juni 2014.
Ini adalah hari pertama. Gue dijemput sama panitia kemping pake mobil. Gue sama temen-temen gue yang semalem sebelumnya pada tidur di rumah gue, langsung siap dengan semangat naik mobil menuju lokasi kemping. Kami dijemput di depan hotel Aston, deket rumah gue.
Setelah satu jam perjalanan, ternyata kami hanya diantar sampe Villa. Bukan sampe gunung. Dan kami harus nunggu selama dua jam sampr akhirnya kendaraan kemping siap berangkat. Sumpah, nunggu selama dua jam itu bukan waktu yang sebentar, Kapten!
Sampe akhirnya jam berangkat pun telah tiba. Gue sih nggak terlalu menikmati perjalanannya karena gue tidur di mobil. Eh, tidur kan menikmati ya?
Pas nyampe di gunung, "Akhirnyaaaa...!!" Kata gue, "Kita nyampe jugaaa..!!"
"Ini gunungnya?"
"Gak tahu.. kayaknya sih iya."
"Kok kayak tempat outbond anak SD?"
"Entahlah.."
Gue sih bodo amat mau kayak tempat outbond, mau kayak tempat karaouke, terserah. Yang penting gue akan bermalam di gunung! Yeah! Im free, young, and wild! Arrgghh!
"Oke anak-anak, hari ini kita akan melakukan beberapa acara yang telah disusun oleh panitia.." kata seseorang yang berdiri di depan.
Gue bengong. Kenapa jadi ada acara gini? Bukannya ini kemping bebas? Kenapa jadi kayak makrab anak sekolahan?! Jangan-jangan gue salah naik mobil?! Apakah ini kemping yang tertukar?! Tidaaaaakk!! Selamatkan akuuu!!!
"Kalem aja, acaranya cuma post to post sama futsal doang." Kata Irvan.
"Kalem kalem nenek lo kayak helm! Gue kesini mau bermalam dengan kebebasan! Bukan ikut acara anak sekolahan!" Gue mulai sewot.
"Terus, sekarang lo mau pulang?"
"Kalo gue tahu jalan pulang sih, gue bakal pulang." Dan kalo pun gue tahu, kayaknya percuma, toh gue nggak bawa kendaraan.
Gue terjebak.
Iya, gue terjebak.
GUE TERJEBAK, KAMPRET!
Huhuhuhu.. -__-
Maka, hari itu pun resmi menjadi hari penjajahan bagi gue. Mungkin ini karma dan balasan dari Tsaqif. Ya, karma itu pedih, Jenderal!
Dan lebih parahnya lagi, selain terjebak dalam permainan anak sekolah, gue juga mengalami hal-hal tidak lazim lainnya, seperti: kekurangan makanan, tenda bocor dan kehujanan, susah tidur semaleman, nggak mandi karena air gunung itu dinginnya melebihi air kulkas. Kalian tahu gimana rasanya didinginin sama pacar kalian? Nah, ini lebih dingin lagi. Saking dinginnya, mungkin kalo gue beli es krim di sini, itu es krim-nya nggak akan pernah mencair, yang ada bakal beku terus. Hmm.. gue jadi kepikiran buat jualan es krim di gunung. Bayangkan, berapa banyak keuntungan yang akan gue dapatkan?
Tapi, sekarang bukan saat yang tepat untuk mikirin politik dan ekonomi. Sekarang yang harus gue pikirin adalah: bagaimana cara keluar dari hutan ini, secepatnya. Karena baru satu jam aja gue udah nggak betah.
Hingga malam hari tiba, gue nggak bisa tidur. Pertama karena tendanya bocor. Kedua karena gue selalu kepikiran gimana kalo pas gue tidur tiba-tiba ada babi hutan yang menyelinap ke dalam tenda. Ketiga karena udaranya dingin dan gue nggak bawa selimut. Kalo yang selimut sih emang karena kesalahan gue sendiri. Oke, itu persoalan lain.
Tidur di dalam tenda bocor, dengan perut kosong, dingin, dan tanpa kehangatan.. gue mulai tidak bisa berpikir secara rasional. Rasa takut dan khawatir gue semakin menjadi-jadi. Gue takut kalo pas gue tidur, tiba-tiba ada T-rex lewat melintasi tenda. Kemudian gue terinjak dan jadi menyatu dengan tanah. Serem. Gue jadi nggak bisa tidur. Gue insomnia. Gue nggak bisa... zzz.. zzz.. zzz..
Ternyata gue bisa tidur.
Bangun-bangun jam adzan subuh.
Gue pikir, acaranya cuma satu hari. Ternyata di hari kedua ini masih ada acara penutup, yaitu senam pagi. Beuu.. senam dari jam 6 sampe jam 8 pagi itu lumayan melelahkan teman-teman. Terlebih lagi bagi gue yang kalo di rumah udah terbiasa tidur pagi bangun siang.
Selesai mengikuti rangkaian acara, kami dikasih waktu istirahat selama satu jam. Waktu inilah yang gue manfaatkan untuk nongkrong di warung deket parkiran. Gue beli mie karena masih laper, gue jalan-jalan mencari udara segar, dan gue poto-poto sama angsa:
Gue juga nggak tahu apa motivasinya gue pengin dipoto sama angsa.
Tapi nggak apa-apa, yang penting gue nggak separah si Irvan.
Dipoto sama semut:
Gue baru sadar, ternyata si Irvan unyu juga.
Ada juga yang lebih gue nggak ngerti lagi.
Ridwan. Dipoto sama mie:
Udah paling nggak paham.
Ya.. inilah hari-hari gue selama di Cicalengka. Pulang dari kemping gue langsung pilek lagi. Padahal sekarang udah masuk bulan puasa.
Yap, segini dulu aja curhatnya. Sekarang gue mau nyelesain naskah lagi.
Rencananya, kali ini gue mau bikin buku yang berbeda. Format penulisannya masih personal literature, genre masih ada komedinya, dikit. Dan gaya penyampaiannya masih sama kayak tulisan di blog. Lalu, apa yang membedakannya? Gue bakal bikin buku yang tipis. Target gue tebelnya cuma 130-140 halaman. Kenapa? Tunggu aja di postingan berikutnya. Diperkirakan sih, akhir Agustus 2014 bisa beres.
Oke, gue selesain dulu naskahnya ya!
Dadaaaahh!
***
Tambahan:
Makasih buat Shelvie yang udah minjemin gue buku-buku ini:
Balikinnya minggu depan ya! Belum tamat semua!
0 comments
Post a Comment