Hi, namaku adalah Hadiah Untuknya, setidaknya penciptaku memanggilku seperti itu.
Aku adalah sebuah buku bersampul merah, dihiasi oleh gambar emoticon di mana-mana.
Penciptaku sudah lama menulis pada tubuhku, dia menghiasi tubuhku dengan tulisan yang penuh emosi. Ada senang, sedih, kaget, banyak emosi yang ku rasakan ketika ia menulis.
Hari itu, penciptaku membawaku pada seorang lelaki, yang katanya, "Lelaki itu akan menjadi pemilik barumu." Aku tidak mengerti, kenapa penciptaku ingin memberikanku pada orang lain? Apa karna namaku adalah 'Hadiah Untuknya' yang berartikan aku sengaja dibuat untuk dihadiahkan pada seseorang?
***
Hari Kamis, penciptaku duduk manis di sebuah minimarket. Ia tampak terlihat gelisah, sesekali aku mendengar amarahnya, "Ah, kemana sih dia? Kok gak dateng juga.." aku hanya bisa diam, merasakan emosinya.
Tak lama sejak penciptaku duduk, ia membawaku pergi. Penciptaku berdiri di samping jembatan penyebrangan. Penciptaku terlihat kembali gelisah, entah apa yang mengganggu pikirannya.
Setelah beberapa menit berdiri, ia menyebrang jalan, membawaku pada seorang lelaki yang ada di seberang itu. Seorang lelaki yang tinggi.
"Kenapa nyebrang di jalan?" Tanya lelaki itu pada penciptaku, "Kenapa gak lewat jembatan penyebrangan?"
"Hah? Aku lupa, aku gak liat ada jembatan. Hehe" jawab penciptaku.
Saat itu aku tahu, bahwa penciptaku adalah seorang gadis yang bodoh. Menyebrang jalan saja sudah seperti tindakan bunuh diri.
"Ok. Lain kali, kenali sekitarmu." Kata si lelaki itu.
"Iya, Rakaaa.." jawab penciptaku, yang menyadarkanku pada sesuatu. Iya, lelaki itu bernama Raka.
Setelah penciptaku bertemu dengan lelaki itu, aku hanya diam mendengar mereka berbicara di bawah jembatan penyebrangan. Lelaki itu berdiri, sedangkan penciptaku duduk manis di depannya. Begitu obrolan mereka terhenti, penciptaku memberikanku pada lelaki itu, "Ini hadiah buat kamu."
Oh, sekarang aku tahu kenapa namaku Hadiah Untuknya, ternyata penciptaku memang sengaja menulis untuk lelaki itu, untuk Raka.
"Oh ini?" Tanya lelaki itu, seolah-olah ia tahu bahwa aku memang akan diberikan padanya, "Makasih ya!"
"Iya, tapi belum selesai. Keburu males. Hehe" kata penciptaku.
"Oke. Aku yang lanjutin sisanya."
Penciptaku memang belum selesai menulis, ia menyisakan beberapa halaman kosong. Aku sempat berpikir, apakah penciptaku memang seorang gadis yang malas? Sampai menyelesaikan tulisan satu buku saja ia tak mampu. Namun, pikiranku berubah ketika aku sudah ada di tangan pemilik yang baru. Ya, lelaki itu adalah pemilik baruku.
Waktu itu penciptaku sudah pamitan dengan si pemilik baruku, ia pulang ke rumahnya. Lalu si pemilik baruku ini mulai membuka halaman pertama.
"Aku tahu kenapa kau tidak ditulis sampai selesai olehnya," kata pemilik baruku sambil membuka setiap halamanku, "Penciptamu ingin aku melanjutkan halaman kosong ini. Ia ingin, aku menulis di sini."
Aku tidak mengerti, kenapa? Apa karena penciptaku dan pemilik yang baru ini memiliki sebuah ikatan?
"Penciptamu itu mantanku," kata si pemilik baruku, yang membuat aku terkejut, "Dan ia ingin halaman yang kosong ini, berisi tulisanku. Oke, aku akan menulis."
Satu hal yang ku tahu ketika mendengar itu, ternyata pemilik baruku adalah seorang penulis.
Ingin rasanya aku bertanya-tanya pada pemilik baruku ini, aku ingin tahu banyak hal darinya, tapi apa daya.. aku hanya sebuah buku.
Andai aku bisa bicara, pasti aku sudah bertanya banyak padanya. Aku ingin mendengar cerita darinya. Aku ingin menjadi buku yang spesial. Tapi, aku tahu. Aku hanya sebuah buku.
Hidupku memang sangat tragis, tercipta hanya untuk ditulisi lalu dibaca, tak lama kemudian dilupakan. Atau minimal, paling aku hanya di simpan menjadi ganjel lemari.
Apalah artinya aku. Hanya sebuah buku yang menjadi tempat seseorang curhat untuk sesaat.
"Kamu keren. Aku suka." Kudengar suara itu dari pemilik baruku, ketika ia selesai membaca tulisan penciptaku.
Ada sedikit rasa bahagia yang ku rasakan. Setidaknya, pemilik baruku menyukaiku. Tapi, palingan rasa itu hanya sebentar saja.
Kulihat juga di tumpukan bacaanya, ada banyak buku berlabel, buku yang di tulis oleh penulis terkenal. Jelas aku akan kalah saing jika di bandingkan dengan buku-buku itu.
Dan aku tidak mungkin di simpan sejajar dengan mereka oleh pemilik baruku ini, yang ku tahu ia seorang penulis, yang ku tahu ia seorang pembaca yang menyukai buku-buku berlabel.
"Nah, ku simpan di sini saja!" Kata si pemilik baruku itu, sambil menyimpanku di jajaran buku bacaanya.
Aku tidak percaya, ia mengizinkanku bersanding dengan buku-buku berlabel itu! Senang rasanya bisa ada di dekat mereka! Tapi, aku lebih senang lagi ketika mendengar ucapan pemilik baruku, sebelum ia menyimpanku di sini. Ia bilang..
Kamu adalah sebuah buku yang berisi kumpulan cerita kisah nyata. Ya, bagiku.. Kamu bukan hanya sekedar buku. Kamu adalah mesin waktu.
Buku itu sebuah mesin waktu yang paling nyata. Karna saat aku membacamu, aku bisa kembali pada masa laluku, ketika aku masih bersama penciptamu.
Buku itu sebuah mesin waktu yang paling hebat. Karna saat aku membacamu, aku bisa kembali mengingat semua cerita yang jika hanya diingat di kepala, mungkin akan terlupa dengan mudahnya.
Oh iya, namaku Raka Prasetya A! Mungkin akan lebih dikenal dengan panggilan Aka.
Dan sekarang aku baru menyelesaikan satu mesin waktu. Isinya beragam, ada banyak cerita di sana. Tentang penciptamu juga ada, bahkan di beberapa bagian, mesin waktu ciptaanku tidak berbeda jauh dengan dirimu.
Sebenarnya aku ingin membuat banyak mesin waktu, untuk menceritakan kisah-kisah tertentu. Tapi sekarang, aku baru bisa membuat satu. Hahaha.
Aku nggak tahu kapan mesin waktu pertamaku bisa terbit. Tapi yang pasti, aku akan berusaha menerbitkannya. Karena di dalam mesin waktu pertamaku, ada sebagian tentang dirimu.
Iya. Pemilik baruku, seorang penulis dan penggila buku itu, ia akan membuatku menjadi berlabel seperti mereka (buku-buku yang ada di sampingku), ia akan membuat mesin waktu yang sebagian isinya ada padaku.
Baiklah, aku akan menunggu!
Sambil menunggu, aku akan terus melihatmu menciptakan mesin waktu mesin waktu yang baru.
Aku diletakan di atas meja kerjanya.
Aku bisa melihat dia..
Ketika raut wajahnya bahagia karena menemukan ide tulisan, ketika raut wajahnya kesal karena hp nya selalu berbunyi mengganggu waktu menulisnya, ketika raut wajahnya terlihat bodoh karena bingung kehabisan ide tulisan, dan banyak lagi.
***
Terimakasih Lisda, telah menciptakanku dan memberikanku pada seorang lelaki bernama Raka.
Lelaki itu menyukaiku!
0 comments
Post a Comment